Senin, 21 Juni 2010

HIDUP HANYA MENUNDA KEKALAHAN



Manusia melakukan aktivitas "menunggu" sudah sejak ia terlahir bahkan jauh sebelum dia dilahirkan. Dalam perut bunda mengandung, si jabang bayi meronta berputar bahkan menendang perut sang bunda seolah tak sabar ingin keluar. Namun sebelum keluar melalui mulut rahim bunda, sudah ditetapkan oleh dokter ataupun dukun beranak untuknya agar menunggu selama 9 bulan 10 hari. Hingga sampai tiba waktunya lahirlah si bayi ke dunia, terlahir dengan tangisan namun di sekelilingnya tersenyum melihatnya.
Bayi mulai tumbuh dan perlahan mengalami proses perkembangan. Saat ia mulai bisa berjalan, bicara bahkan sudah mulai bisa bermain kesana kemari, terlihat olehnya seorang anak yang sedang bermain sepeda, muncul dalam pikirannya untuk dapat memiliki dan bisa mengendarai sepeda itu. Namun ia harus menunggu sampai kakinya sampai pada pijakan dan mampu mengayuh pedal roda sepeda.
Balita sudah menjadi anak-anak usia sekolah, sudah waktunya ia mencari ilmu, dimulai dari bangku taman kanak-kanak. Bermain dan belajarlah ia di taman kanak-kanak sambil menunggu sampai umurnya cukup untuk masuk ke sekolah dasar.
Kemudian 5 tahun berjalan di bangku sekolah dasar. Maka ia harus menunggu 1 tahun lagi untuk dapat masuk ke sekolah menengah pertama. Kemudian 3 tahun belajar di sekolah menengah pertama untuk menunggu giliran masuk ke sekolah menengah atas. 3 tahun pula ia belajar dan menimba ilmu di sekolah menengah atas untuk menunggu waktunya ia berhasil menempuh ujian akhir dan masuk perguruan tinggi. Namun penantiannya untuk lulus ujian dan masuk perguruan tinggi, gagal. Kecewa timbul dalam hatinya, menyesal juga dalam dirinya, jatuh. Ibu dan ayahnya pun berkata, "Mungkin ini belum waktunya, tidak apa-apa... kegagalan adalah sukses yang tertunda, kamu harus menunggu sambil belajar lebih giat lagi agar berhasil masuk ke perguruan tinggi yang kamu inginkan..."
Setahun berjalan setelah ia dinyatakan tidak lulus. Kali ini ia mengikuti ujian sekolah untuk kedua kalinya, seusainya ujian, kembali ia harus menunggu hasilnya. Beberapa hari setelah ujian, hasilnya.... ia dinyatakan lulus. Puji dan syukur ia panjatkan, membawa berita gembira untuk ayah dan ibu di rumah. Keberhasilan itupun terpaksa disimpan dulu karena akan digunakan untuk dibuktikan, apakah bisa membawanya masuk ke perguruan tinggi.
Pendaftaran dibuka, ia pun mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Selang beberapa minggu pengumuman kelulusan ujian seleksi masuk perguruan tinggi disebarkan melalui berbagai media komunikasi, baik koran maupun situs internet. Mencari dan terus saja mencari namanya dari ribuan nama yang ada.
Tiba-tiba.., "AYAH..... IBU..... AKU BERHASIL LULUS SELEKSI!!! Alhamdulilah...." tersenyum bangga orangtuanya melihat semangat sang anak atas keberhasilan itu. Sekarang masuklah ia pada suatu lingkungan pendidikan yang amat sangat berbeda dengan keadaan lingkungan serta hubungan sosial pertemanan seperti di sekolah. Proses adaptasi dijalani, pelan-pelan ia mulai terbiasa dan menikmati suasana baru di lingkungan yang baru.
Perkuliahan yang dari hari ke hari membuatnya sedikit jenuh, namun terobati pula kejenuhan itu karena adanya teman, membuatnya tetap semangat untuk belajar. Beberapa semester telah dilalui, muncul keingingan untuk dapat menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya atau ingin lebih cepat, tentunya dengan nilai yang baik pula. Setelah semua mata kuliah telah terpenuhi, baik yang tatap muka maupun praktek dilakukan. Mulailah ia berpikir untuk menemukan judul skripsi yang akan dijadikannya tugas akhir kuliah sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana. Hasil dari pemikiran itu begitu rupa, desain penelitian mulai dirancangnya, pengajuan kepada pihak akademik diupayakan agar dapat diseminarkan dan diterima untuk dilanjutkan menjadi sebuah penelitian dan penyusunan laporan akhir. Namun pada tahap ini jalannya juga tak semulus seperti biasanya, pengajuan judul tidak langsung dapat diterima, ia harus memperbaiki desain yang ada menjadi lebih baik lagi.... sekaligus menunggu kapan desain penelitian miliknya bisa disetujui. Setelah disetujui pun, masuk pada tahap seminar desain penelitian, apa yang terjadi... desain penelitian miliknya ditolak, tidak dapat dilanjutkan, maka ia harus menunggu kapan tiba saatnya seminar itu kembali dilaksanakan.
Kemudian..., seminar kedua dilaksanakan, berlangsung alot, berbekal pengalaman pada seminar sebelumnya, sekuat pemikiran dan keyakinannya, ia ingin pertahankan dan meyakinkan penguji atas judul penelitiannya. Hasilnya pun tidak mengecewakan dan sangat memuaskan untuknya. Penelitian berlangsung selama beberapa bulan, tahap penyusunan laporan dikerjakan dan proses bimbingan pada dosen pembimbing yang tidak sedikit memakan waktu percuma hanya untuk menunggu dosen tersebut di tempat yang sudah dijanjikan sangatlah menguji kesabarannya. Dalam otaknya hanya dipenuhi pertanyaan kapan ia diizinkan untuk maju ke meja sidang untuk mempertanggungjawabkan skripsinya itu.
Hingga tiba saatnya, laporan disetujui, waktunya mempersiapkan mental untuk menghadapi ujian, ujian yang ke sekian kalinya. Selama proses sidang skripsi berlangsung, dalam hatinya hanya berkata, "Semangat, kali ini aku tidak boleh mengulang kekalahanku."
Sidang selesai, 5 menit menunggu hasil dari skripsi yang disusunnya selama berbulan-bulan. Moderator mengucap salam, menyapa dan mulai membacakan hasil. Duduk dan menunggu moderator membacakan hasilnya itu lamanya seperti menunggu antrian beras yang panjanganya 5 kilo, getar getir rasanya, harap-harap cemas apakah dapat jatah atau tidak. Tapi kali ini ia bukan sekedar menunggu beras yang akan dimasak menjadi nasi dan habis di makan sekali duduk. Melainkan hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun di bangku kuliah yang akan berpengaruh untuk masa depannya kelak, intinya ini bukan saja menunggu nilai melainkan selembar kertas yang sangat bernilai tinggi dari segi keformalitasannya untuk mencari sebuah pekerjaan.
Dan hasilnya...... suasana hening. Moderator berkata, "Anda mendapat perolehan nilai 80,25 dengan kategori A, predikat kelulusan DENGAN PUJIAN atau CUM LAUDE", sontak jantungnya berdegup sekali dengan kuat lantas gemetar dan tanpa ia sadari menetes airmatanya, dalam hati ia berucap, "Alhamdulilah ya Allah, Kau memberi kesempatan untukku dapat membahagiakan orang tua, keluarga, dan teman-teman yang telah mendukungku."
Keberhasilan..., kemenangan itu kembali dapat diraihnya setelah sebelumnya kegagalan kerap kali memintanya untuk menunggu.
Terlepas dari dunia pendidikan yang memberinya status sosial yang sangat bernilai dan berbekal ijazah, ia memberanikan diri untuk meneruskan hidup ke tahap selanjuntya. Sekarang tiba untuknya mencari pekerjaan sebelum ia benar-benar masuk ke dunia yang mengatasnamakan keprofesionalisannya sebagai seorang pekerja. Lamaran diajukan ke beberapa perusahaan, proses interview dan psikotes dilalui, tinggal menunggu handphone miliknya berdering, berharap nomor yang muncul pada layar adalah nomor kantor dari salah satu perusahaan tempat ia mengajukan lamaran pekerjaan.
Selang beberapa minggu, dering panggilan dari handphonenya dengan nomor yang diharapkan pun tak juga terdengar. Sampai akhirnya ia mulai putus asa, merasa kalah (lagi). Suatu pengharapan baru kini datang, seseorang yang dikenalnya dulu menghubunginya dan memintanya untuk menjadi asisten dosen di kampus tempat ia kuliah dulu. Tanpa banyak berpikir panjang, kesempatan ini tidak akan dibuang sia-sia, segera ia beranjak dari keterpurukan itu.
Berawal dari assisten dosen, sekarang ia telah diangkat menjadi dosen tetap di perguruan tinggi itu. Kesuksesan yang diraih tidak hanya soal profesi tapi juga urusan yang sangat pribadi. Jatuh hati dan menjalin hubungan khusus dengan teman seprofesinya, membuatnya ingin segera melepas masa lajang. Namun untuk masalah ini ia juga harus menunggu kapan tiba saat yang tepat untuk berumah tangga, karena baginya... pernikahan hanya akan dilakukannya sekali seumur hidup. Sungguh-sungguh ia ingin menetapkan hati kepada gadis yang diharapakannya kelak dapat menjadi istri yang baik untuknya.
Tahap penjajakan dan pengenalan serta proses pemahaman karakter terhadap satu dengan yang lain telah dijalani, tiba saatnya ia meminta gadis itu agar berkenan menjadi mempelai wanita untuk sebuah ikatan suci perkawinan di sisa hidupnya, selamanya. Prosesi lamaran sampai dengan resepsi pernikahan dilaksanakan dengan begitu khidmat dan lancar. Namun lagi-lagi, ia kembali harus dihadapkan dengan sebuah antrian panjang, menunggu tiba kapan ia memperoleh titipan Tuhan dari hasil pernikahannya. Anak, ya ia ingin segera memiliki anak dari hasil perkawinannya dengan istri tercinta. Hanya saja kali ini, waktu yang ia butuhkan dan korbankan untuk menunggu tidak hanya memakan waktu dalam hitungan hari, minggu atau pun bulan, melainkan tahun. Dari tahun ke tahun, apa yang diharap-harapkannya tidak kunjung datang. Doa, ihktiar, tawakal dan istiqomah....memohon setiap malam dalam tahajudnya. Namun Tuhan belum juga berkenan menitipkan amanah itu kepadanya. Sampai suatu saat tanpa disangka dan diduga olehnya, istrinya datang menghampiri dengan wajah sendu menunjukkan keharuan, sesungguhnya dalam hatinya ia bahagia. Karena apa yang akan disampaikan kepada suaminya adalah berita yang sangat menggembirakan. Sudah dapat ditebak, ya, benar sekali! Mereka akan memunyai seorang anak. 9 bulan 10 hari berlalu, tiba saatnya penantian atas anugerah sekaligus amanah Tuhan ini mereka peroleh.
Mereka jaga dan mereka rawat, setiap hari perkembangan anak itu terus mereka pantau, menunggu hingga anaknya dewasa dan kelak akan menjadi apa. Namun seiring berjalannya waktu, semakin tumbuh besar dan dewasa si anak, semakin bertambah tua pula si orangtua. Orangtua, ayah maupun ibu, setiap kesempatan selalu memberi amanah, nasihat serta petuah tentang sekiranya anak kelak dapat memegang dan menjaga tiap rezeki Tuhan yang ia terima. Keberhasilan hanya titipan, semua kekayaan dan kesuksesan sifatnya sementara, karena matimu kelak harta benda serta kedudukan tidak akan terbawa ke liang kubur, yang tersisa hanyalah amal ibadah.
Kemudian pada suatu hari, ayah jatuh dari tempat tidurnya, dalam keadaan tidak sadarkan diri ia terus mengeluarkan suara rintihan kecil, diujung pelupuk mata sang ayah...menetes airmata. Si anak hanya bisa mengusap airmata ayahnya yang menetes terus-menerus, sesekali si anak berbisik "Ayah..., ayah kenapa?" Perasaan khawatir dan kalut terhadap kondisi ayah, serta sedih melihat ibu terus menangis di samping ayah, membuat si anak bertindak untuk melakukan sesuatu yang sekiranya dapat menolong ayahnya. Sigap ia membawa ayahnya ke rumah sakit, pertolongan dilakukan oleh dokter, segala daya dan upaya dilakukan, tapi Tuhan berkehendak lain. Sang ayah tidak dapat diselamatkan.
Dalam hati si anak, "Ayah..., masih banyak keinginanku untuk memperlihatkan dan memberikan sesuatu kepadamu, sebagai bukti bahwa kau adalah seseorang yang sangat hebat, sahabat sekaligus guru bagiku. Sesungguhnya kepergianmu begitu berta untuk kurelakan, hanya saja pesan dan nasihatmu begitu lekat dalam pikiran dan hatiku, ayah... Ayah, selamat jalan!" Menangislah si anak menenang semua kebersamaannya dengan ayah.

Bayi itu telah melewati berbagai fase kehidupan, merasakan pahitnya kegagalan dan manisnya keberhasilan. Kegagalan itu sesungguhnya bukanlah suatu keberhasilan yang tertunda, melainkan pembelajaran untuk menguji seberapa kuat kalian menghadapi kekalahan yang sebenarnya dalam hidup ini.

Sudah ada perjanjian tentang hidup dan mati sejak awal, konsekuensi dari terlahir... berarti siap untuk melibatkan diri pada banyak masalah sekaligus menyiapkan batin untuk menghadapi kekalahan...

2 komentar:

  1. makasih...udah berkunjung... :) *sering2 mampr yah... n jgn lupa komentarnya

    BalasHapus