Selasa, 22 Juni 2010

SELAMAT HARI AYAH


Hari Ayah akan terus ada dalam hidupku, tak perlu menunggu tanggal 19 Juli untuk merayakannya. Aku rayakan hari itu setiap hari, dalam doa dan kenangan bersama ayah (dulu). Kerinduan ini tidak akan pernah hilang, kesedihan yang sulit kuhapus mengingat ayah telah tiada. Membuatku kadang kuat namun tidak jarang aku menjadi rapuh.

Hari terakhir kebersamaan:
Malam itu kami bernyanyi, aku yang memetik gitar dan ayah yang bernyanyi, bernyanyi lagu lama "selamat jalan kekasih..." teruntuk ibu. Senyumnya begitu indah hanya saja tersimpan kesedihan. Kenapa? Tak kutanyakan langsung padanya, hanya dalam hati saja. Sepuasnya malam itu aku bercerita, tapi ayah menghentikan ceritaku, "Tidur sana, besok pagi kerja lagi kan? Kesiangan nanti!"
Aku pun tertidur untuk beberapa jam sampai terdengar suara ibu memanggil-manggil. Sekejap saja aku langsung terjaga, saat mendengar ayah tidak sadarkan diri, dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan ayah terbujur di lantai sambil merintih kecil. Dari sudut matanya, menetes air mata, kuhapus pelan-pelan, dan berbisik, "Pak....bangun pak..., bapak...." Dini hari aku keluar rumah dengan pakaian yang melekat ditubuh, berusaha mencari pertolongan, siapapun kuharap bersedia menolong.
Ayah kubawa ke rumah sakit, bersama adik dan ibu dengan pertolongan tetangga. Ayah masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sesampainya di rumah sakit, ayah segera mendapat penanganan medis dari dokter jaga. Dokter menyarankan untuk segera dirawat di ruang ICU, karena kondisi ayah sangat kritis, tanpa pikir ataupun pertimbangan, aku hanya ingin ayah cepat sembuh dan tidak terjadi apa-apa padanya, aku turuti saran dokter. Tapi saat itu di rumah sakit ruang ICU sedang penuh, ayah harus dirujuk ke ICU di rumah sakit lain. Saat di ambulance, aku hanya bisa menangis, berdoa pun sudah tak sanggup, tapi entah kenapa hati seolah bicara "Ihklaskan.... ihklaskan mira...."
Tiba di rumah sakit (yang lainnya), ayah kembali mendapat perawatan medis, berita buruk bagiku dan keluarga, tensi darah meningkat drastis dari 220 menjadi 244, kolesterol 400, dan ada pembengkakan pembuluh darah di otak yang sudah mencapai stadium akhir, bermasalah pula dengan jantung dan divonis mengidap diabetes. "YA ALLAH...,separah itu kah penyakit ayah? selama ini tidak sekalipun ia mengeluhkan penyakitnya, rasa sakit yang ia alami tidak sedikitpun aku tahu karena melihat kesehariannya yang selalu ceria..."
Ayah dirawat di ruang ICU dan ditangani oleh dokter ahli. Ibu hanya bisa terdiam dan menangis menunggui ayah di luar ruangan bersama aku dan adik. Beberapa saat, seorang suster memanggil ibu untuk masuk ke ruang perawatan, cukup lama ibu di sana. Sampai akhirnya beberapa temanku datang untuk memberi dukungan, ceritapun mengalir dengan senyum dan tawa. Tapi itu hanya sebentar, teman-temanku kembali pulang. Tidak lama setelah teman-teman pulang, ibu keluar dengan wajah yang sangat kalut, ia memintaku menebus resep obat. Lantas aku segera pergi mengajak adik untuk menebus resep di apotek, 30 menit mengantri, akhirnya obat didapat, 3 kantung palstik hitam ukuran 2kilo. Aku kembali ke ruangan ICU tempat ayahku dirawat.
Baru saja aku berdiri di depan pintu ruang ICU, aku mendengar ibu menangis sejadi-jadinya, bingung, bertanya-tanya. Aku berlari menuju ruangan ayah, obat-obatan yang ku ambil bersama adik, masih kupegang sedangkan kantung obat yang dipegang oleh adik, diberikan adikku kepada suster. Masih dalam keadaan bingung, aku masih di luar ruangan perawatan ayah, adikku masuk duluan, namun tak lama kudengar hentakan benda keras sekali. Adikku menangis, tangannya memerah karena menghantam kaca pintu ruang perawatan. Aku masuk..., lantas apa yang kulihat dalam ruangan itu tak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran. "BAPAK......", tubuhnya telah ditutup dengan selimut merah miliknya yang biasa digunakannya untuk tidur, suster itu menutup tubuh ayah hingga ke wajah. Aku tidak sempat melihatnya untuk terakhir kali, aku tidak sempat menghantarkannya menghadap maut, aku tidak sempat memberikan apa yang ia inginkan sebelum ia pergi, tidak ada pengharapan untuknya dapat kembali lagi karena kali ini ia pergi untuk selamanya.
Pandanganku seketika gelap, lemah tubuhku saat itu, hanya bisa mendengar tangisan ibu dan adik yang masih kuat memecah kesepian ruang ICU rumah sakit itu. Aku merasakan tubuhku diangkat dan dibawa. Beberapa saat aku membuka mata, aku sudah di dalam mobil teman ayahku, disitu aku terus menangis....yang ada dalam pikiranku hanya ayah. Kebersamaan dengannya, keinginannya, dan nasihat-nasihat yang pernah ia katakan kepadaku menjelang hari-hari terakhirnya.
Setibanya di rumah, di selasar depan pintu masuk ruang tamu, ku lihat tubuh ayah yang telah membujur di kasur beralas kain putih dan ayah telah ditutup kain batik hingga menutup di wajah. Tak kuasa rasanya menahan kesedihan melihat jasad ayah yang sudah tidak bernyawa. Lagi-lagi aku lemah, tak sanggup menahan beban yang begitu berat, aku jatuh (lagi), lemah terbaring di kamar ayah, tempat terakhir kami menghabiskan kebersamaan pada malam itu. Kupeluk gitar yang kugunakan untuk mengiringi nyanyian ayah untuk ibu. Lagu itu pertanda... "selamat jalan kekasih..." teruntuk ibu dan "selamat jalan ayah..." dariku dan adik.

Kata-kata terakhir darinya: "Jangan banyak mengeluh, kau masih muda, harus semangat!"

Selamat hari ayah... dalam doa: "semoga kau disana selalu diberi kelapangan, diberi kemudahan untuk mencapai surgamu, dan ditempatkan di tempat yang paling mulis di sisiNya"
Anakmu sangat merindukanmu.... dalam namaku ada namamu, bersama ibu kau telah berikan cinta yang sesungguhnya tidak dapat peroleh dari siapapun.

"Ayah memerlukan doa
Ayah memerlukan tuntunan

Ayah memerlukan keihklasan

Aku bersyukur ayah mengucapkannya
Aku bersyukur kalimat tauhid menggerakkan mulut dan lidahnya
Aku bersyukur ia mengakhiri dengan tenang dan tidak meronta
Karena...
Tidak semua bisa mengucapkannya
Tidak semua bisa didampingi keluarga

Tidak semua bisa mendapat karuniaNya

Betapa banyak orang yang kehilangan kepergiannya

Betapa banyak orang yang mendoakannya

Betapa banyak orang yang punya kesan kebaikannya

Tiada seorang pun ma'sum selain nabi
Tiada seorang pun kembali tanpa membawa doa
Tiada seorang pun yang tidak ingin diampuniNya"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar