Kamis, 24 Juni 2010

SUSU COKELAT DAN DIA


Segelas cokelat susu hangat untuk pagi ini. Tidak seperti biasanya, kali ini susu cokelat tidak diberi gula, aku biarkan kelat dari cokelat mendominasi manis susu itu. Panas teramat panas, sampai lupa kalau airnya masih panas, melepuhlah bibir ini. Huhu.... kenapa? Jangan tanya kenapa...! Karena saya sedang tidak berselera dengan rasa seperti biasa. Saya inginkan yang berbeda, melupakan yang telah tiada. Saya mau yang ini saja!
Tapi kalau masih ada pilihan cokelat manis dan susu asam, kurasa boleh juga. Saya butuh pembaharuan rasa setiap harinya. Bosan dan jenuh sudah sering kali menyesaki dada. Aah! pergi kau jauh-jauh gundah, kalau boleh saya hanya minta ayah. Ayah yang dulu pernah ada dalam hidup saya. Ayah yang pernah menjadi idola saya. Ayah yang selalu menjadi guru buat anak-anaknya terutama saya. Oh, ternyata rasa ini masih tentang ayah.... Iya, aku memang sangat merindukannya. Selalu inginkan ia hadir dalam mimpi-mimpi saya, mengenakan baju koko berwarna merah, ia datang dengan sejuta senyum indah di wajah, oh ayah...
Saya teguk lagi susu cokelat itu. Uuuh, terlalu lama menulis disini, sampai-sampai lupa, susunya sudah mulai dingin untung saja belum membeku (lebay). Seruput dia punya seruput, srruuuppppp! Habis seketika susu cokelatnya, haa waktunya memberi kesempatan kalian untuk komentar, tapi sepertinya tidak akan ada yang komentar karena yang follow saya sangat sedikit ya... haha. Tak apalah, mengasah tak perlu menggunakan asahan seribu, cukup satu asal sungguh-sungguh pasti mampu! Yey!!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar