Kamis, 01 Juli 2010

BELAJAR BICARA SOAL HIDUP


Sesuatu untuk segalanya, satu hari kelahiran untuk selamanya, selamanya untuk satu hari yang dinamakan kematian.

Sejak terlahir manusia sudah membuat perjanjian atas kehidupan dan kematiannya sendiri. Intinya ini tentang hidup dan selanjutnya ini bukan bicara soal kemarin atau pun akan datang. Sekarang yang penting itu adalah sekarang. Sekarang kita hidup, tidak ada kata "masih lama" atau "sudah tua". Tatkala jika bicara soal usia siapa yang tahu, mungkin saja kau masih muda tapi sudah ditakdirkan akan mati muda, atau mungkin saja sudah tua tapi kau ditakdirkan belum mati juga (entah kapan?). Lagi-lagi usia kita siapa yang tahu? Apa ini pertanyaan? Jawabannya diketahui oleh orang-orang yang bertuhan.
Ketika terlahir, dan menjalani beberapa tahun pertama hidup di dunia, pertama kali kau akan disajikan suatu kenikmatan rasa yang dinamakan kasih sayang, dan kau dapatkan itu dari bunda dan ayah. Sebelum nantinya kau merasakan cinta dari lawan jenis yang bisa indah, bisa juga mendatangkan resah atau mungkin di akhir akan menjadi hampa. Pada tahap selanjutnya kau mulai belajar dengan merasakan sakitnya sebuah pengkhianatan. Kekacauan suasana hati dari "kesakitan" itu diharapkan membuatmu paham bagaimana memperbaiki keadaan yang memburuk menjadi lebih baik, bukan lantas menjadi sangat terpuruk sampai-sampai ingin mati bunuh diri. Orang bijak pernah berkata: "BUKAN BERAPA KALI KITA JATUH, TAPI BERAPA KALI KITA BANGKIT", coba saja tanyakan hal itu pada diri kalian sendiri. Pikirkan apa yang kalian lakukan, bukan mengenang apa yang sudah kalian lakukan, dan bukan pula menyesali apa yang telah kalian dapatkan. Sekali lagi kata bijak ini diperdengarkan: "NO PAIN NO GAIN", tidak akan ada hasil tanpa usaha.
Merasakan gagal adalah proses menuju kedewasaan. Itu menurut beberapa orang yang pernah mengalaminya sendiri, pengalaman pribadi untuk pengalaman umum sebagai pandangan hidup orang banyak, "EXPERIENCES IS THE BEST TEACHER", pengalaman memang guru yang terbaik. Tapi kedewasaan tidak jarang masih sering kali dipertanyakan pada diri sendiri atau pun bagi orang lain, karena kedewasaan tidak dapat diukur dari tingkatan usia. Dampak dari katroisme pada era globalisasi yang mengemuka di publik mengakibatkan banyak sekali orang yang dahinya mulai meluas justru membuat pemikiran mereka malah menjadi sempit. Aneh! Sekali lagi: "TUA ITU PASTI, DEWASA ITU PILIHAN".
Saya cukupkan sampai disini saja, urusan kematian saya tidak banyak tahu, yang saya tahu hanya berusaha untuk memperbanyak bekal sebagai teman selama perjalanan menuju-Nya. Dan saya sangat sadar bahwa perbekalan yang saya miliki sekarang masih sangat miskin. Saya memang tidak kaya di dunia, tapi saya sangat inginkan menjadi kaya di akhirat. Amin Allahuma Amin... Amin Ya Rabbal'alamin.

*Untuk diri sendiri: Jangan mengeluh!
*My greatest father says: "Mengeluh hanya untuk orang-orang yang tidak bertuhan"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar