Rabu, 11 Agustus 2010

HARI PERTAMA RAMADHAN

Hari ini, tidak sedikit pun ibu menyinggung soal bapak. Yang ia pikirkan dan aku khawatirkan hanyalah matanya yang tiba-tiba saja memerah ketika ia bangun subuh tadi. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mata ibu, kuharap itu hanya penyakit biasa, kuobati seadanya saja dengan obat tetes mata. Ingin dibawa ke dokter tapi ibunya ngeyel..., bandel seperti bapak. Ya sudahlah, lagi-lagi aku hanya bisa berharap karena aku sudah biasa dibuat cemas.
Pagi hari setelah sahur dan sholat subuh sehabis tidur aku terbangun, melihat mata ibu mulai berkurang merahnya. Alhamdulilah, semoga semakin membaik, tapi tetap saja aku khawatir, kembali aku berdoa kecil dalam hati kecilku "semoga cuma penyakit mata biasa". HHHaaaa.....! Menghela nafas sesekali buat aku bisa merasa tenang, ditambah setelah melihat ibu mandi dan bersiap ke rumah tetangga untuk bekerja, membuat kue kering untuk lebaran. Ibu mulai menyibukkan diri untuk mengusir sepinya di rumah, terlebih jika aku bekerja dan adik pergi berkuliah.
Pagi hari, duduk diam di depan televisi di kamar ibu, mulai merasa bosan, aku naik ke lantai dua menuju kamarku, kuambil laptop ini. Modem kupasang, menunggu loadingnya yang lama bikin aku tambah bosan, ingin tidur, ingin makan! Oups... hehe puasa... (maklum hari pertama). Internet berhasil diakses, facebook-twitter-facebook-twitter, begitu berulang-ulang, jadinya tambah bosan kuadrat. Aku positif "bosan"! Tak lama setelah berputar-putar di jejaring sosial itu, kudengar suara adzan, waktunya zuhur, kutunaikan dulu kewajiban itu. Seusainya kulanjutkan lagi perjalananku di dunia maya. Hanya beberapa saat saja, kemudian kantuk mulai menggantung di pelupuk mata. OFF.... Saatnya untuk tidur siang (tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah).
Sore hari, terbangun ketika kudengar suara ibu memanggil. Ia menyuruhku memasak, tak langsung bangun dan bergegas masak. Aku terduduk, termangu seperti orang habis kehilangan nyawa, melongok. HHoooammm...ngantuk masih terasa, tapi tak kuturuti, lebih kupaksakan untuk membuka kulkas saja, melihat apa yang bisa aku masak untuk menu berbuka hari ini. Daging, kangkung, telur, kentang dan bakso serta ikan asin. Daging ku rendang, kangkung ku tumis, telur ku dadar, kentang dan bakso ku bikin sambal, serta ikan asin ku goreng saja. Jadilah menu hidangannya, tinggal penyegar saja. Giliran adik yang berkerenah di dapur, tugasku selesai, tinggal menyiapkan piring gelas dan sendok di atas meja. Kulihat adik membeli pepaya dan cincau, dikupas dan dipotongnya pepaya, dicuci dan dicincangnya cincau. Diraciknya menjadi minuman segar,uuhhh.... itu minuman mengejek kami saja. hahaha... HHaaaa...godaan! Hidangan berbuka selesai dipersiapkan.
Sudah masuk waktu ashar sedari tadi, badan sudah lusuh karena keringat dan bau asap dapur, sebaiknya mandi sebelum melaksanakan kewajiban. Setelahnya..., aku duduk di teras, sore ini hujan, selain kesehatan mata ibu yang kupikirkan, terlintas sejenak namun sangat menyita pikiran, dia..., aku merindukannya. (Bapak atau dia? hayooo tebak!)
Hari perlahan mulai gelap karena senja sudah berpamitan dengan awan dan langit sejak mendung membisikan matahari untuk segera menyingkir dan membiarkan bulan duduk di tahtanya sekarang. Ibu memanggilku, kuhampiri, duduk di meja makan, adik sudah siap dengan gelas berisi minuman buah itu di tangannya. (Suara beduk, Adzan magrib berkumandang) waktunya berbuka... Alhamdulilah, hari pertama puasa, hari pertama bulan ramadhan tanpa bapak. Ibu tidak sekalipun menyinggung soal bapak, yang ia risaukan hanya sakit matanya. Atau mungkin saja di dalam hatinya (ibu) dia memikirkan bahkan merindukan bapak, hanya saja tidak ingin ia rusak kebahagiaan yang sudah tidak sempurna ini dengan kesedihan. Ibu....., dalam doa bukan saja aku memohon kelapangan untuk bapak, tapi juga keselamatanmu di dunia dan akhirat kelak. Ampunan kuhaturkan untukmu kepadaNya, dan pastinya kebahagiaan kuinginkan selalu ada dalam limpahan rahmatNya untuk kita semua. Amin ya Rabb!

"bukan hanya mensyukuri apa yang sudah ada, tapi semestinya kita juga bisa mensyukuri apa yang tertinggal..."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar