Sabtu, 21 Agustus 2010

PERMOHONAN


Menangis terkadang bisa membersihkan jiwa....
Sampai pada suatu malam aku menangis tiada henti, tak kubiarkan pipi ini kering, sekali pun aku menyapu air mata itu namun tetap saja ia menetes membasahi wajah hingga masuk ke telingaku. Entah seberapa kotor jiwaku saat itu, ingin aku berhenti. Tapi kesedihan yang mendorong air mataku untuk tetap keluar tidak bisa kucegah apalagi kuhentikan. Sudah seberapa banyakkah dosa yang pernah aku lakukan, hanya sedikit yang kusadari. Namun kesadaran datangnya terlalu lambat, ingin aku bertanya pada malaikat yang setiap hari menghitung dan merincikan dosa-dosa itu dalam sebuah buku pembukuan dosa. Ingin aku menurunkan malaikat itu dari punggungku untuk sejenak bicara, sekedar mengetahui seberapa sisa saldo kebaikanku, berapa banyak hutang pahala yang harus aku penuhi agar bisa masuk surga. Sehingga aku tidak perlu terbelit oleh bunga-bunga riba' yang akan menjebloskanku dalam jahanam nerakaNya.
Ya Rasullullah, aku tahu kita tak saling bersua, tapi selalu kuingat janjiMu, akan menolongku atas nama Islam yang masih terpancar di keningku, meskipun aku telah terbakar hangus menjadi arang. Ya Allah, sungguh besar keagunganMu, betapa kecil dan hina dinanya hamba yang hanya berupa tanah dan serupa debu di hadapanMu, Ya Rabb.... masih pantaskah hamba meminta pengampunan? setelah kuabaikan Kau yang selalu melihat gerak langkah serta ucap bahkan pikiranku di dunia. Masih pantaskah aku bersujud di hadapanMu berlutut memohon kasihMu? sementara aku pernah melupakan nikmatMu di dunia. Masih pantaskah aku memelukmu dalam Islam? padahal aku pernah meniadakanMu ketika aku lebih percaya pada sesama penciptaMu daripada kekuasaanMu.
Dalam doa dan tangis, terimalah pertaubatan hambaMu ini, Ya....... Allah........ aku bersimpuh di bawah keagungan dan kebesaran serta kemurahanMu. Sulit bagiku menangisi kesalahan dan dosa-dosa yang pernah aku lakukan. Namun begitu mudah aku menangis atas ketidakmampuanku menangisi dosa-dosa itu. Ya Rahman, Ya Rahim..... segalanya ada padaMu, megah sekaligus perih semesta cintaMu, tidak ada yang bisa memagari kehadiranMu. Kau yang memahat angan menjadi raga, dan Kau pula mengubah mimpi memiliki rupa.
#bersujud aku dalam naungan raga yang berjiwa hambar tanpaMu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar