Minggu, 21 November 2010

CATATAN SEORANG DEMONSTRAN I (Tentang Kebenaran)

Dari catatan seorang demonstran yang pernah kubaca, seorang warga keturunan berkoar dalam diarinya:
"Kebenaran masih berupa harapan sedangkan radio-radio masih berteriak tentang kebohongan. Kebenaran sesungguhnya masih tertinggal di langit dan di dunia hanyalah palsu-palsu. Bagiku cinta bukanlah sebuah perkawinan. 1 atao lebih dari 2 tahun lalu, aku yakin bahwa cinta itu sama dengan nafsu. Maka itu aku sangsi dengan kebenaran. Aku kira ada yang disebut cinta suci, tapi sucinya akan tercemar bila kawin. Akupun telah pernah merasa jatuh simpati dengan orang-orang tertentu, dan aku yakin itu bukan nafsu."
Lain halnya dengan yang satu ini, terkadang aku jadi salah karena ingin membenarkan kesalahan, kesalahan yang dari kekeliruan seseorang yang tidak ingin dibenarkan. Maka seseorang itu lagi berkata, "Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau yang akan selalu manut ketika dicocok hidungnya, karena hanya guru yang tidak mau dikritik yang pantas masuk tong sampah."
Hingga aku berpikir untuk memberitahu kalian semua tentang pemikiran dari orang yang sama: 
"Baginya ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan, dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda mati. Berbahagialah orang yang masih punya rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang bernilai ini. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurblah hidup kita."
Sampai pada seorang Profesor berkata padanya:
"Seseorang hanya dapat hidup selama masih punya harapan-harapan." Tapi aku berpikir sampai dimana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tetapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa? Aku sekarang tengah terlibat dalam pemikiran ini. Sangat pesimis dan hope for nothing. Aku tidak percaya akan sesuatu kejujuran dari ide-ide yang berkuasa sejak aku telah merasa kehilangan. Tetapi aku sekarang masih mau hidup. Aku tak tahu motif apa yang ada dalam unconscious mind-ku sendiri. Pandanganku yang agak murung, bahkan skeptis ini pernah dinamakan sebagai pandangan desktruktif. Memang life for nothing agaknya sudah aku terima sebagai kenyataan. Mungkin ada motif lain yang menggerakkannya, entah itu polkadot, garis-garis, atau bahkan kembali ke corak ingsang. Entahlah...! Barangkali ku punya perasaan untuk berkorban atau merasa sebagai her0 dalam ketidakmengertian. SIAPA TAHU?
Sampai aku bosan dan mengikuti kata hati dari seseorang yang masih saja tetap sama:
"Betapa berat dan sukarnya perjuangan menuju kebenaran. Betapa gigihnya dekaden-dekaden ilmiah bertahan dan betapa kita harus memahaminya. Kita dalam bertindak dengan benar memakai segi rasio dan intuisi sedang mereka hanya membakar perasaan lalu pergi begitu saja. Ya, dan kita harus merintis dan berjuang membasmi akar-akar prasangka yang jauh ke dalam alam bawah sadar, dan rumput-rumput prasangka akan mudah bertumbuh, sedang pohon kebenaran begitu sukar."


"Jangan mau jadi pohon bambu, yang selalu ikut kemana arah angin. Jadilah pohon Oack, yang tetap kokoh meski angin terus menampar pedas tiap helai daun serta ranting dan batang tubuhnya."
_Untuk GIE_

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar