Sabtu, 04 Desember 2010

RADIO NITE

Seperti air laut yang pasang surut saat bulan malam itu, malam gelap, hati suram itu gelap, yang gundah serta gelisah karena gulana (ihiy!!). Bimbang, saat yang dicinta itu jauh dari mata. Meskipun memang...,ia dekat di hati. Hati ini bisa saja pasang surut, namun aku yakin Tuhan selalu bersuara lewat hati, percaya hatimu maka kamu bisa temukan kebahagian, karena bulan sudah memberimu terang saat gelap itu datang. Sengaja Tuhan memberimu pilihan agar kamu bijak, sengaja ia tidak menampakkan wujudnya agar kamu terus melakukan pendekatan terhadapNya, sengaja ia berikan masalah padamu agar kamu juga tidak melupakanNya. Bukan tanpa tujuan segalanya ada di dunia ini. Karena pada dasarnya, hidup juga berawal dari mimpi (Bondan), sebab itu semua yang pernah ada dan akan ada selalu berawal dari sebuah mimpi.
Hmmm, cukuplah aku menangis. Doa itu penting tapi usaha juga harus kuat, tapi jangan lupa tanamkan ikhlas serta berserah padaNya. Pas lagi melow-melownya ada lah serentetan lagu yang diputar oleh benda kecil segi empat pipih di kamar. Sings:
"...Sebelumnya tak ada yang mampu, mengajakku untuk bertahan di kala sedih, sebelumnya kuikat hatiku hanya untuk aku seorang. Sekarang kau di sini, hilang rasanya, semua bimbang, tangis, kesepian. Kau buat aku bertanya, kau buat aku mencari tentang rasa ini, aku tak mengerti. Akankah sama jadinya bila bukan kamu, lalu senyummu menyadarkanku. Kau cinta pertama dan terakhirku.
Sebelumnya tak mudah bagiku, tertawa sendiri di kehidupan yang kelam ini, sebelumnya rasanya tak perlu membagi kisahku, tak ada yang mengerti. Bila suatu saat kau harus pergi jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik karena senyummu menyadarkanku kau lah cinta pertama dan terakhirku. Kau buat aku bertanya kau buat aku mencari tentang rasa ini. aku tak mengerti, akankah sama jadinya, bila bukan kamu..." (Sherina_Cinta Pertama dan Terakhir)
Andai yang di sana itu membalasnya dengan:
"...Berapapun cinta datang padamu, tak akan kutakut. Berapapun hati mengahmpirimu, tak akan kutakut. Karena aku, cinta terakhir yang tlah kau nanti, menanti jawabnya, juga aku labuhan akhir, tempat kau berlabuh sampai kau mati. Seindah bintang hiasi malam, layaknya itulah aku, layaknya itulah aku..." (Domino_Cinta Terakhir)
Hmmm seandainya saja! Dan aku hanya bisa ungkapkan ini dengan, nyanyikan (lagi):
"Aku..,ingin engkau ada disini. Menemani aku saat sepi, menemani aku saat gundah. Berat..,hidup ini tanpa dirimu. Kuhanya mencintai kamu, Kuhanya memiliku kamu. Aku rindu setengah mati kepadamu, sungguh kurindu..." (D'masiv_Rindu Setengah Mati)
Hhhoooaammmmm Super duper melow ini malam, CUKUP! Yang kemarin nasionalis, idealis, dan sedikit komunis (ehehe), sekarang balik lagi romantis melowdramatis. Baiklah..., last one, juz wanna say that "MISS HIM SO MUCH". Tapi entah kenapa, rindunya ini justru tidak ingin bertemu melainkan ingin perang!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar