Sabtu, 08 Januari 2011

3 RUANG SEJALAN 1 TUJUAN

Sering kali berpikir dan membayangkan bagaimana aku mati, bagaimana ekspresi mereka yang aku tinggalkan. Sering kali aku gelisah tentang akhir hidup yang aku jalani sekarang, banyak jalan juga banyak tikungan serta perhentian. Namun sering kali aku urungkan niat untuk melihat ke belakang sekedar untuk mengingat. Karena sering kali aku merasa jadi manusia bodoh, mencari sesuatu yang tidak ada tapi terus aku jadikan ada (dalam khayalan). Bodoh!
Sering kali aku menangis mengingat masa lalu, menyesali, kemudian menyalahkan diri sendiri. Namun itu sering kali menjadikan aku manusia kuat yang tidak ingin ditempa siksa oleh sisa-sisa masa lalu. Maka sering kali aku berusaha bangkit, melanjutkan hidup yang aku dapati sekarang, tidak ingin mengusiknya pula dengan kegelisahaan akan masa depan yang tidak ku tahu kemana arah, tapi aku tahu tujuannya. Banyak jalan, banyak juga tikungan serta perhentian, jenuh kemudian putus asa itu hal biasa. Tapi satu yang aku tahu, Tuhan tidak suka kita mengeluh. Berusaha untuk tidak mengeluh menjalani banyak jalan tikungan serta perhentian ini, tapi kadang aku kalah oleh keringat dan peluhku hingga akhirnya aku pun mengeluh. Manusiawi ku pikir, paling tidak dapat kusadari pada akhirnya mengeluh itu dibenci Tuhan.
Di jalan aku berpikir, di perhentian aku membayangkan, apa yang menjadi alasan nantinya ketika aku pergi meninggalkan mereka semua yang ada disini. Tapi kembali lagi, sering kali aku takut dan aku gelisah. Hingga muncullah sebuah pernyataan (hanya untuk menghibur diri) 'Bukankah sekarang aku masih dapat menghirup udara, bangun pagi seperti biasanya dan sarapan disini bersama mereka. Aku bukan manusia bodoh yang terjebak di masa lalu, dan aku bukan manusia "sok" kuat yang mampu menerima masa depan yang belum pantas aku terima. Dengan segala kekurangan, aku sadar, berkeinginan untuk memperbaiki diri. Dengan segala kelemahan aku berusaha bangkit dari kursi rapuh yang aku duduki sekarang untuk menjejak hari ini, hingga akhirnya aku pantas menerima masa depan ku kelak. 
Iya, sesungguhnya masa lalu hanya sebuah penyesalan, dan masa depan hanyalah kegelisahan, maka tidak akan aku rusak kebahagiaan yang aku dapati sekarang. Kemanapun aku berjalan, meski banyak arah serta perhentian, yang aku tuju hanya satu. Kembali padaNya. (suatu hari nanti)

#inmyrum

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar