Senin, 17 Januari 2011

RUMAH KOTAK KACA

Jangan sediakan aku tempat jika kamu tidak memperkenankan aku berada di tempat itu. Seperti melihat rumah miniatur yang terdapat dalam kotak kaca. Indah dipandangan namun sangat mustahil untuk menyentuhnya apalagi menempatinya. Terima kasih, setidaknya kamu sudah menyenangkan hati ini dengan kata-kata manis meskipun tidak semanis pada kenyataannya.
Inginnya aku gunakan kesempatan yang sebelumnya sering kali kamu berikan. Tapi ketika kesempatan itu aku gunakan, entah kenapa saat melihatmu melihatku mengisi kesempatan itu, mata dan mulutmu seolah tidak pernah memberiku kesempatan tersebut sebelumnya. Aku heran, apa aku yang amnesia atau kamu yang sengaja lupakan ingatan ketika posisi kita berdua sama-sama menjadi tersangka. Setidaknya ada kata maaf itu cukup untuk meralat kelupaingatanmu. Namun, aku lupa lagi, lantas berpikir mungkin aku yang salah. Haa, meminta maaf di saat seperti ini pun aku kira percuma. Benar saja, kata maaf sudah tak berharga, dan jujur  “LOVE U”? sedikit demi sedikit jiwa dalam kata-kata itu perlahan mulai ditarik dari jasadnya. Bukan karena sudah tak cinta atau melupakan kasih sayang dan komitmen yang pernah terucap. Terucap? Yah! Baru terucap, belum dibangun. Aku ingat sekarang, komitmen itu baru saja terucap, sama sekali belum kami pikirkan dengan apa dan bagaimana harus dibangun. Impian tentang rumah di kotak kaca pun hilang seketika, terbakar dan tinggal jelaga.
Aku kembali ke tempat ku sendiri, di rumah tempat aku berdiri semula. Mulai memungut semua robekan kertas dari jurnal pembukuan dosa-dosaku. Lelah aku sendiri, aku minta bantuan pada malaikat yang biasa bertengger di pundak. Namun, ia menolak untuk membantuku, karena ia sibuk menghitung dosa-dosa baru yang aku lakukan hari ini. Sebegitu banyakkah? Hingga malaikatku tidak bersedia membantuku. Kemudian, aku ambil kaca, dan sekali lagi, benar saja. Ini wajah sangat penuh luka, aku tidak yakin kamu dapat kenali aku lagi. Wajar jika kamu jahat padaku sekarang.
Sakit punggung ini membungkuk, sepertinya malaikat sudah banyak sekali mengumpulkan dosa-dosaku. Berat! Aku berbaring, kudengar malaikat terjatuh dan menjerit  kesakitan tertimpa dosa-dosaku. “Maafkan aku malaikat… karena aku, kau jadi tertimpa sial…”. Tapi tolong sekali ini bantu aku punguti lagi dosa-dosa itu kembali, masukan seluruhnya dalam jurnalmu itu. Aku ingin berbaring sejenak melepas rindu pada rumah dalam kotak kaca. Memimpikannya saja semoga cukup bagiku. Sebelumnya terima kasih. Kau teman sejati, segala kebaikan dan keburukanku kau simpan rapi. Aku menyesal tidak dapat sepertimu. Tapi inilah aku, mengeluh karena selalu merasa tidak puas. Kenapa tidak puas? Karena aku manusia, manusia yang diciptakan dengan segala kekurangan. Segala kelebihan pun yang aku punya itu hanya sebatas hembusan satu nafas Allah, hanya hembusan, sekedar udara bukan zat padat.
Lelah sekali tubuh ini. Ooh Tuhan, izinkan aku sekali ini untuk kesal padamu. Berhenti bermain teka-teki yang Kaunamakan takdir, tapi tentunya aku tidak akan melupakanMu sebagaimana Kau selalu ingat aku. “Aku lelah Tuhan…”, izinkan saja aku masuk ke rumah dalam kotak kacaMu di surga sana, satu menit cukup. Tapi jika kau sedang berbaik hati, biarkan aku disana selama satu atau dua jam, atau biarkan aku selamanya saja di surga sana (tapi mungkinkah untukku yang berdosa). AAaaaahhhg……! Aku bosan diam, aku ingin berteriak lantang menembus semua lubang dan memukul gendang telinga semua orang. Haaaahh…. “Aku sungguh lelah Tuhan…”. Aku tahu Kau selalu bersama orang-orang yang sabar, aku sudah sabar menunggumu memberiku tempat. Tapi jika belum saatnya, izinkan aku tidur tenang malam ini. Tidur di rumah dalam kotak kaca. (Lupakan persoalan 1 jam lalu)
Selamat malam!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar