Senin, 31 Januari 2011

SANDIWARA PELANGI

Kalau ada yang bilang dunia itu panggung sandiwara. Jadi, kalau saya katakan bahwa hidup ini adalah drama, tidak ada yang salah kan? Saya, kamu, kalian, dan mereka, semua adalah aktornya. Siapapun kamu, memegang peranan penting dalam drama sandiwara ini, tidak ada yang pembantu atau sekedar figuran. Semuanya menjadi tokoh utama dalam kisah yang dipilih sendiri. Apa itu tentang kesenangan, kesedihan atau bahkan kebencian.
Tidak ada hal yang paling menyenangkan selain dapat terlahir ke dunia. Namun tidak ada juga yang lebih membuatmu jadi sangat tidak semangat untuk hidup sampai kamu merasakan penat tentang segala persoalan di dunia. Hingga berpikir untuk damai dan pergi dari dunia. Oups, tapi itu bukan pilihan yang baik..., ingatlah bahwa mereka, orang yang menyayangimu selalu berkata, "Selalu ada hikmah di balik semua", selalu ada hujan sebelum kamu dapat melihat pelangi. Maka jangan mencari matahari ketika mendung dan hujan, karena Tuhan sesungguhnya telah menyiapkan prisma warna di langit setelah angin berhasil membekukan air-air itu, ....ialah Pelangi. Ada kesenangan pasti ada juga kesedihan, saling melengkapi. Seperti warna, tidak akan kita kenal putih jika tidak ada hitam, dan tidak akan ada kebaikan sebelum kita tahu seperti apa kejahatan. Tapi bukan berarti harus melakukan kejahatan dulu, baru kamu tahu seperti apa yang namanya kebaikan. Cukup lihat dan pahami. Keep spirit! :)
Cukup bermain dengan pelangi di langitnya, mari kembali ke panggung kita. Ada banyak adegan yang harus kita lakoni dalam sebuah pementasan drama, apakah itu prolog atau bahkan hingga epilog? Semuanya runtun dalam satu jalan cerita, tidak mundur melainkan maju, juga bukan campuran. Karena pada hakikatnya jalan cerita di panggung ini hanya ada maju. Silahkan kembali ke belakang namun bukan langkah kita yang mundur melainkan hanya memori. Sesekali kita akan memilih berhenti, tapi jangan pernah untuk kembali di awal. Tuhan sudah menunggumu di sana untuk tepati janji. Semuanya hanya kembali kepadaNya, tidak ada yang kembali pada "waktu itu", semua dariNya hanya kepadaNya. Tinggal menunggu kapan waktunya. Jika ada yang lebih dulu, apakah itu orang terdekatmu atau hanya dianggap dekat? biarkan dan relakan, meskipun sulit untuk ikhlas (bertolak pada diri saya yang juga sulit menerima kenyataan saat harus ditinggal Ayah, 2 minggu sebelum saya di wisuda). Untuk kalian yang pernah ditinggalkan, jangan khawatir, yakin suatu saat nanti kita semua akan bertemu dan kembali berkumpul bersama orang-orang terdekat yang lebih dulu meinggalkan kita, hanya tinggal menunggu tiba waktunya.
Apa yang harus kita lakukan sekarang adalah terus dalami peran ini. Yakinkan saja bahwa lakon itu adalah diri kita sendiri. Bukankah lebih baik dikatakan "mirip orang gila sungguhan" ketimbang dikatakan "mirip orang waras"? Be your self! 
Dan....
Lanjutkanlah ceritanya, ini kisahmu. Tapi ingat, panggung ini milikNya, Ia sutradaranya, pahami dan ikuti apa yang menjadi aturan main dalam peran yang kamu lakoni. Semoga kita semua berhasil meraih penghargaan dan tiket berlibur ke firdausNya. Amin Allahumma Amin...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar