Jumat, 25 Februari 2011

JUST WANNA SAY "THANK YOU"

Terlahir dalam keluarga yang sederhana, ayah saya (almarhum) telah meninggalkan banyak kenangan yang ia ukir dalam setiap lukisan dan kata di dinding hati saya. Banyak yang mengatakan bahwa saya sungguh sangat mirip dengannya, baik itu dari sikap, sifat, bahkan pilihan hidup kami untuk menjadi seorang guru itu juga dijadikan alasan orang-orang sekitar mengatakan saya mirip dengan sosok berwibawa dan bersahaja itu. InsyaAllah, saya memang ingin seperti dia. Sosok yang bukan sekedar ayah buat saya, melainkan juga teman, mungkin sahabat, dan pastinya ia adalah guru untuk saya. 
Banyak hal yang pernah ia ajarkan, baik itu secara langsung maupun tak langsung. Wataknya memang keras, tapi di balik itu semua dia hanya ingin anak-anaknya tidak mudah menyerah jika menghadapi suatu masalah. Kuat dan jangan banyak mengeluh. Hal-hal tersebut yang ingin ia tanamkan pada anak-anaknya. Tidak hanya itu, dia juga selalu mengingatkan bahwa permasalahan itu tidak akan selesai jika hanya dipikirkan (pastinya), layaknya PR dari sekolah yang diberikan oleh guru itu tidak akan selesai jika tidak segera kita kerjakan. Hal yang sungguh sangat sederhana, pernah sekali dulu saya kebingungan saat diminta guru mengerjakan sebuah prakarya. Sepulangnya di rumah, habis daya dan upaya memikirkannya, apa yang harus saya persiapkan dan lakukan untuk membuat prakarya itu. Saya tanyakan ayah tentang apa yang harus saya lakukan. Dia hanya tersenyum dan berkata, "hidup itu harus kreatif, kalau tak kreatif tak hidup", terdengar agak ekstrim menurut saya. Tapi teringat kembali ayah pernah berkata, "tanggapai segala sesuatu dengan objektif", baiklah... saya berusaha mengambil positifnya (meskipun agak sulit saya terapkan sekarang, hehe...). Kembali lagi soal prakarya tersebut, yah...berpikir, berpikir lagi dan lagi..., mencari-cari bahan alat dan cara agar prakarya tersebut jadi. 12 jam kemudian, jadilah prakarya itu.
Positifnya yang bisa saya petik dari perkataan itu.., adalah! Mengingat cerita ilmuwan bernama Thomas Alpha Edison, kekreativitasan pikirannya untuk menciptakan alat penerangan (lampu) benar-benar dapat kita rasakan "kehidupan" di malam hari, padahal seorang Edison tidak pernah menyelesaikan bangku sekolah dasarnya. Tidak perlu ijazah, ia di nobatkan menjadi seorang ilmuwan, karena kreatif. Ada pula yang lain, Albert Eisnten misalnya, siapa yang tak kenal ilmuwan dengan rumus  E=MC2 nya ini, di masanya, ia pernah menciptakan sebuah bom atom, yang kekuatannya dapat menghancurkan seluruh kota yang sangat luas, ingat kejadian serangan bom atom di nagasaki dan hiroshima, jepang, bukan? yah itulah! sekali lagi, padahal seorang Einsten tidak pernah merasakan bangku sekolah. Namun hal ini tidak bermaksud membuat kalian para pelajar untuk jadi malas pergi ke sekolah ya... ^_^
Simpulan:
Yang tidak bersekolah bukan berarti tidak bisa jadi lebih baik dari yang bersekolah. Karena masa depan hidup tidak sepenuhnya ditentukan oleh ijazah, melainkan sebagian besar kesuksesan itu diraih karena kekreativitasan manusia. Tuhan sudah menciptakan otak beserta akal pikiran pada manusia, bukan tanpa maksud, manfaatkan dan kembangkan sedemikian rupa, insyaAllah keberhasilan dapat kita raih. 
Sedikit banyak saya bisa menerapkannya, sampai akhirnya saya berhasil mendapatkan apa yang saya harapkan. Puji syukur ke hadirat Allah Swt. dan terima kasih kedua orang tua saya, specially for my father.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar