Kamis, 10 Februari 2011

SETIAWAN DAN SETIAWATI

Seseorang yang bernama Setiawan yang bersaudarakan Setiawati itu, diharapkan oleh orang tuanya bakal menjadi anak yang setia. Entah itu setia pada orang tua dan keluarga atau pasangannya serta teman dan para sahabat, bahkan mungkin setia terhadap bangsa dan negara. Sungguh nama merupakan pertalian doa orang tua kepada Tuhan demi kebaikan anak mereka.
Baiklah..., mari kita lanjutkan. Tapi kali ini kita tidak akan berbicara soal "nama adalah doa" melainkan soal "setia itu adalah...(?)". Sebagian kecil ada yang beranggapan bahwa kesetiaan itu sungguh sangat membosankan. Monoton, hanya berkutat pada satu poros, berputar dan terus berputar pada satu arah yang sama, setiap waktu, setiap saat. Setia menurut pengertian tersebut tidak jarang menimbulkan banyak protes dari banyak pihak yang benar-benar memihak pada kemurnian dari arti "setia" itu. 
Bicara soal murni dan tidak murni, adakah penjelasan mengenai pengertian "setia" yang dari sebagian kecil orang itu dapat kita kategorikan sebagai setia yang "tidak murni"? Entahlah, mungkin iya atau mungkin tidak. Jujurnya, saya tidak bisa menjelaskan. Tapi setidaknya sedikit yang saya ketahui mengenai "kesetiaan" adalah sesuatu yang berkaitan dengan keikhlasan. Saat kita mampu belajar untuk ikhlas dan menyanggupi segala kekurangan dari pasangan atau orang-orang di sekitar kita, maka selanjutnya paham yang dapat kita pahami adalah "bagaimana melanjutkan suatu hubungan (baik dengan kekasih atau teman dan pastinya keluarga sendiri) tanpa menghiraukan intervensi dari pihak lain yang dapat mengancam keberlangsungan hubungan yang kita jalani tersebut?" (Ada yang bisa menolong saya untuk menjawab pertanyaan ini? Jika ada silahkan berikan komentar kalian! Terima kasih). 
Selanjutnya, masih tentang kesetiaan "murni". Paham lain yang dapat saya jabarkan disini mengenai pengertian "setia" adalah satu hal tentang "ketulusan". Ketulusan mungkin sama saja dengan keikhlasan, hanya saja hal ini lebih spesifik. Istilah ini banyak digunakan untuk sepasang kekasih yang sedang "hangatnya" memadu kasih. Muncul lagi satu pertanyaan, "kenapa saya katakan "sedang hangatnya"?" Jawaban menurut versi saya pribadi, bahwa begitu hangatnya cinta itu bersemi ketika hubungan masih dapat dikatakan seumur jagung, belum ternoda amarah atau ilfeel dengan sifat asli dari masing-masing pasangan, maka cinta itu mendorong mereka untuk terus saja mengucapkan "cinta ini TULUS, jujur aku katakan dari lubuk hatiku yang paling dalam....(bla..bla..bla..).." Tapi berikutnya, dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan, "ketulusan" itu bisa saja perlahan hilang. Kontras dengan kalimat-kalimat yang jelas serta padat (tadinya) namun tak lagi sinkron (seperti sekarang).
"Perhatikan dan pertimbangkan setiap kata yang akan diucap, karena bisa saja ia menjadi doa namun bisa juga menjadi sebaliknya (takabur)" 
Lantas, apa hal tersebut dapat dikatakan "setia"? Saya jawab, "bukan". Jadi, menurut kalian, apa itu arti kesetiaan? Kembali ke pada istilah setia "murni", apa itu yang dinamakan kemurnian dari suatu kesetiaan? (Aah, terlalu banyak pertanyaan!)
Apalah arti kesetiaan baik itu murni atau tidak sekalipun, yang ada hanya ada satu kesetiaan, setia itulah kemurnian. Tidak tercemar oleh sedikitpun noda. Namun teori ini selalu saja dipatahkan oleh pernyataan yang menjelaskan, bahwa "manusia tak luput dari kesalahan..., alias MANUSIAWI". Tapi jelas, hanya manusia, untuk manusia saja teori itu dipatahkan. Sedangkan tidak untukNya. Ia sungguh setia, Ar-rahman Ar-rahim, zat yang mencintai hambaNya melebihi arti kata "keihklasan" apalagi sekedar "ketulusan". Ia lah Dia sang MAHA CINTA.

#mencoba realis dalam dongeng percintaan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar