Minggu, 13 Februari 2011

TEMAN

Bermula dari seutas tali. Tali banyak sekali menghubungkan sesuatu dengan sesuatu bahkan seseorang dengan seseorang, namun terkadang tali juga dapat mencekik serta memutus. Sungguh hidup berada pada seutas tali. Sekalinya ia rapuh maka tak segan ia menenggelamkan atau menjerumuskan kita ke lubang berarus dalam.
Tali banyak cabangnya, bermula dari keluarga hingga ke pertemanan serta orang-orang di sekitar, dan hingga kau dewasa maka selanjutnya tali itu akan menghubungkanmu pada cabang yang dinamakan kekasih (pacar). Terlalu banyak cabang, terkadang lupa harus merawat kekuatan di satu cabang yang lain.
Cukup bicara soal tali, sekarang yang paling penting yang ingin saya sampaikan adalah mengenai sesuatu yang dihubungkan oleh tali-tali tersebut. Tempat dimana kau dilahirkan itu dinamakan tali kekeluargaan, tempat dimana kau menemukan suatu kekerabatan bersama orang-orang di sekitar itu dinamakan tali pertemanan, dan satu tempat lagi dimana kau dapat menemukan sesuatu yang kau rindukan itu dinamakan tali .... (?) entahlah! Masih saja bicara soal tali? Cukup!
02.15 (14 Februari 2011)
Malam kemarin saya menangis, lagi-lagi menangisi sesuatu yang sudah tidak jadi milik saya lagi. Susah untuk melupakan sesuatu yang berharga namun sudah tidak menjadi milikmu. Apa mungkin saya salah mengartikan sesuatu yang ada itu menjadi "milik" saya. Pasti bagi orang yang berada dekat dengan saya akan dan bahkan sudah merasa sangat bosan dengan tingkah dan pemikiran saya. Saya maklumi itu, tapi hati tidak bisa berbohong, terkadang otak pun tidak mampu mengendalikan gerak hati. Tidak dibuat-buat. Dulu saya pernah merasa kesal dengan tingkah seorang teman dan saudara saya yang patah hati, saya mencibir ketika melihat mereka menangisi kehilangan itu. Meremehkan, membodoh-bodohkan mereka, dan berkata mereka itu "cengeng". Jahat memang, dan baru saya sadari bahwa saya jahat ketika apa yang menimpa mereka kini menimpa saya. Ya Tuhan, kisasMu sungguh membuktikan bahwa Kau-lah Yang Mahamengetahui segala yang ada dan pernah ada di dunia ini. Terima kasih kini, Kau menyadarkan aku dengan pukulan yang sangat telak, tepat menimpal otak jahat saya, saya mengerti. Hanya saja sekarang saya masih butuh banyak waktu untuk melaksanakan "proses". Karena pada dasarnya praktek tidak semudah teori.
Saya berpikir, mengenai hubungan yang saya jalani sekarang. Baik itu keluarga maupun pertemanan bahkan juga percintaan. Cuma satu tali yang sampai saat ini menurut saya masih sangat lembut mengikat. Pertemanan. Cobalah pikir, siapakah yang memintamu untuk menjadi anak yang berguna di masa depan? Pastinya keluarga. Cobalah pikir, siapakah yang memintamu untuk menjadi seseorang yang tepat bagi seseorang yang lain di masa depan? Pastinya kekasih. Sekarang, cobalah pikir, adakah teman yang memintamu untuk berguna di "masa depan"? Adakah teman yang memintamu untuk menjadi orang yang tepat di "masa depan"? Saya pikir tidak, karena teman hanya melihat dirimu yang sekarang. Teman mencintaimu apa adanya yang ada dalam dirimu, menyayangi dirimu untuk menjadi sesuatu yang baik sesuai keinginanmu, bukan keinginannya. Maka tidak heran seseorang jauh lebih bahagia ketika bersama teman ketimbang bersama yang "lainnya". Namun apa yang saya jelaskan ini sama sekali tidak bermaksud agar seseorang untuk mengabaikan atau bahkan memutuskan tali kekeluargaan dan percintaan. Melainkan, kalian "keluarga" dan "kekasih" cobalah bersikap menjadi seorang teman. Cukup itu yang dapat dilakukan agar semuanya seimbang, tidak ada minoritas atau pun mayoritas, Tidak ada yang merasa menjadi suatu "keluarga", lantas berhak mengatur-ngatur seseorang tersebut. Tidak ada yang merasa menjadi "kekasih", lantas berhak mengikat seseorang tersebut. Jadilah teman yang membebaskan namun tetap mengingatkan. Itu jauh lebih baik. Baik kalian guru, presiden, artis atau siapapun kau, jadilah "teman". Baik kalian orang tua, kakak, adik atau tetangga sekalipun, jadilah "teman". 
Karena tali pertemanan adalah tali yang paling fleksibel. Pergunakan tali itu dengan sebaik-baiknya, semoga tetap terjaga. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar