Selasa, 01 Februari 2011

XXX

Maukah kamu memaafkan aku? Aku yang dibentuk oleh nilai-nilai yang tak memberi tempat pada sebuah pemberontakan untuk cinta, aku dibentuk oleh sistem yang mengerangkeng cinta atas nama moralitas dan norma-norma sosial lainnya, tapi kesadaran ini datang terlalu lambat. Aku akhirnya hanya menjadi serumpun pohon bambu yang membiarkan setan-setan hidup dan bersembunyi di balik kerimbunannya. 
Maafkan aku...
Bagiku kamu bukan sekedar rekan biasa. Namun kamu telah berdiam di keremangan hatiku, berkilat bagaikan sebutir mutiara di dasar lautan, berdiam dalam jarak gelombang cahaya melalui atmosfer yang tak terukur jaraknya. Kau yang menentukan warna matahari yang berubah-ubah dari pagi, siang, sampai senja menjelang. Dalam jarak yang sangat abstrak, kamu sudah berada di dunia paradoks warna. Kamu ada, tapi tak ada, seperti warna yang terdapat dalam cahaya. Cahaya yang bagi mata manusia kelihatan tak berwarna. 
Jika maaf tak mengubah waktu, tak dapat mengembalikan semangat pada mata yang malas. Maka kali ini aku mengakui bahwa setiap hari yang aku miliki setelahnya adalah hari baru meski mungkin yang terjadi sebenarnya hanya pengulangan dari hari-hari sebelumnya. Semua itu hanya siklus waktu belaka tanpamu. Perubahan-perubahan dalam garis siklus itu hanyalah perubahan dalam garis hidup seseorang. Dan kehidupan seperti diselimuti kabut tebal yang tak tembus pandang. Pekat dan hanya menyisakan bayang-bayang yang bergerak di dalamnya. 
Selanjutnya...
Akan terdengar bunyi langkah-langkah kaki. Aku akan menghilang di jalan saat itu juga dan kau akan bangkit dari bangkumu, kau pegangi rantainya, mendongak menatap seleret kecil langit dan bertanya-tanya siapa kiranya orang tak dikenal berpakaian putih yang datang menghampiri perjalananku saat aku hilang menembus kabut. Ketika sesosok malaikat beritikad baik yang menyamar dalam wujud iblis akan membuat pikiranmu tenang dan sementara kau dapat membiarkan pelupuk matamu yang berat mengatup dan dirimu akan merasa sangat bahagia layaknya kau miliki sayap untuk menyapu langit hingga dapat kau melemparkan bayang-bayang gelap mengganggumu saat kepergianku malam ini. 
Maafkan aku....
Tumpukkan-tumpukkan beku batu dimana penglihatan pandangan inderaku menyinggahi alam berlukis sungai berarus sangat laju. Kulupakan masa silam dan kubiarkan hari depan mengurusi dirinya sendiri tanpa aku mau peduli. Aku memandang dia (masa depan) sebagai penimbrung yang mengganggu pemikiran lambatku. Aku merasa ini adalah satu-satunya dunia yang aku punya, dan aku tidak mau dia datang dan mengacau-balaukan segala sesuatu. 
Terakhir...
Maafkan saja aku yang sekarang, lupakan masa lalu, karena masa depan hanya datang sesekali memberi pukulan telak tentang suram. Aku pergi!

_Lembar usang di harian masa kuliah_

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar