Minggu, 27 Maret 2011

ADA PUTIH ADA HITAM


Lulus SMA, inginnya lanjut ke luar kota. Tapi tidak diijinkan karena faktor keamanan dan biaya hidup disana pastinya tidak sedikit dan jauh lebih besar ketimbang disini. Kecewa? Cuma sementara. Sampai waktunya masuk ke perguruan tinggi di kota sendiri, jurusan yang mulanya dipilih "asal", sedikit merasa "tidak bersemangat" karena menjalani suatu pilihan yang awalnya memang "bukan pilihan". Mengikuti arusnya saja, perlahan menyenangi, yang awalnya berniat ingin mengikuti suatu tes dan berhenti kuliah...hal itu tidak diteruskan, tapi memilih meneruskan yang sedang dijalani pada waktu itu. Ilmu dan Pengetahuan yang didapat pada beberapa mata kuliah tertentu, buat semangat itu terbangun dengan sendirinya. Suka, kemudian tekun mendalami. (Pilihan tidak selamanya ditentukan pada sebelumnya tapi juga dapat ditemukan di setelahnya)
Semangat dan tekun, bukan hanya dari dalam diri, tapi karena dukungan serta motivasi dari orang-orang terdekat, terutama Bapak. Syarat untuk kelulusan kuliah yang ditetapkan kampus tidak seberapa menekan dibanding kata-kata Bapak. Yah, pada saat itu, sempat menganggap kata-katanya adalah suatu "tekanan", tapi tidak setelahnya ketika berhasil melewati persyaratan serta meraih apa yang ingin direalisasikan dari kata-kata itu. Cumlaude, that's right! Itu tagetnya, dan sukses disandang. (Predikat kelulusan di bangku kuliah memang tidak menjamin kesuksesan seseorang dalam hal mencari pekerjaan sesuai gelar di bidang ilmunya, tapi sensasi yang dirasa ketika "proses pencapaian" itu berlangsung sampai akhirnya "selesai", wuaaah....undescription!). Bangga? Pasti dirasakan orang tua, terutama Bapak. Sesuai kata-katanya, pencapaian yang sesuai kata-katanya, "tekanan" yang tidak sesuai dengan maksud dari kata-katanya itu adalah motivasi, motivasi yang baru dapat dimaknai ketika proses telah berganti menjadi pencapaian. Bahagia tentu dirasa sangat membumbung saat itu, syukur padaNya dan terima kasih untuk semua entah berapa kali terucap. Bahagia berlanjut di hari berikutnya, ketika Bapak memberi kebaya cokelat cantik untuk wisuda. Terus saja berlanjut kebahagiaan itu, sampai akhirnya ketika selang 25 hari sebelum jelang wisuda, sesuatu yang sangat buruk terjadi, 25 hari lagi kebaya itu akan dikenakan, 25 hari lagi pelakat akan diterima, 25 hari lagi keluarga ini akan diabadikan pada sebuah gambar, keluarga yang lengkap inginnya, tapi tidak ketika hari ke-25 setelah Bapak pergi, pada gambar itu hanya ada 3 orang. Bapak hanya bisa melihat dari sana. Kecewa? iya, dalam waktu yang cukup lama, tapi tetap hal itu cuma sementara.
Setidaknya menjalani profesi sesuai dengan bidangnya dan mengaplikasikan kata-katanya adalah satu-satunya cara bagaimana mengatasi rindu pada Bapak. Pelan-pelan kecewa mulai terkikis, ikhlas jalan satu-satunya untuk membuat Bapak tenang, dan "proses pencapaian" kembali dilaksanakan demi mewujudkan "kata-katanya", no time for putus asa. Ujian berikutnya diikuti, lulus? Alhamdulilah iya. Senang? sudah pasti. Bersyukur? tidak akan lupa. Tapi...kelulusan itu juga tercekat suatu permasalahan, hal ini pastinya sedikit merusak kebahagiaan, tidak dielakkan bahwa kebahagiaan sesungguhnya tidaklah kekal, ada saja masalahnya. Tapi seperti kebahagiaan yang tidak kekal, ketidakbahagiaan juga tidak akan kekal. Whatever happens in your life, whatever your pain, there will always be sunshine after the rain. Trust GOD!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar