Selasa, 01 Maret 2011

AYAH DAN ANAK GADISNYA

"Bapak cuma ingin melihat anak-anak Bapak sukses, hidup kalian yang atur sendiri, pilihan ada di tangan kalian masing-masing, pilihan yang baik, baik pula masa depan kalian"
Sebelumnya tidak pernah berpikir untuk menjadi orang yang sangat baik untuk semua orang. Karena sewaktu remaja, tepatnya di usia sekolah, saya bukanlah seseorang yang memiliki tingkat kepopularitasan layaknya anak remaja pada umumnya, yang "gaul" serta "modis". Hanya anak biasa dan hingga sekarang pun saya tetap merasa jadi wanita biasa dari keluarga dan pergaulan serta lingkungan yang biasa-biasa saja. Kenapa saya katakan "biasa saja", sebab sudah sedari dulu terbiasa dengan hal-hal yang sederhana, baik itu tampilan luar maupun dalamnya. Tidak ingin kemewahan, tidak inginkan suasana yang "WAH" dalam hidup, insyaAllah saya tetap mensyukuri keadaan yang seperti ini hingga akhir, seperti amanah (Alm) Ayah saya. 


"Bersyukur tidak dikarunia wajah cantik seperti gadis-gadis yang lain, anggap saja, kalau Tuhan merasa khawatir kalau aku cantik maka aku akan sombong, terlebih jika aku kaya", dalam hati hendak menghibur diri yang (jujur saja) terkadang sedih (ketika remaja). Masa itu (remaja) masanya mencari jati diri, ingin pengakuan dan juga ingin dimaknai. Namun terlepa dari semua itu, saya yang sekarang adalah "saya". "Anak Bapak yang pintar dan juga baik, tidak perlu cantik dan kaya kalau ingin pengakuan, dari kesederhanaan seseorang, dari mata orang yang jeli, maka ia akan melihat kecantikan itu terpancar dari karakter kamu", saya ingat benar kata-kata ini. Harapan untuk masa depan, "semoga pendamping hidup saya seperti Bapak", cuma itu. Membimbing, berjiwa pemimpin (terutama untuk rumah tangga), Ayah yang baik dan suami yang setia, serta bijaksana. Love him... (Semoga mimpi itu jadi kenyataan, Amin...Allahumma Amin)


"Jadilah pemaaf, meskipun kadang dendam itu susah untuk dihilangkan, sulit untuk mengungkapkan maaf atau memaafkan itu biasa, yang terpenting Tuhan sudah tahu bahwa dalam hati, diam-diam kamu sudah memaafkan dan berniat ingin minta maaf, tapi harus diingat, lebih baik lagi jika niat juga disertai amalan", sifat buruk saya yang sering kali Ayah ingatkan agar dapat diubah. InsyaAllah... "Sebaik-baiknya orang di mata orang lain tidak akan jadi baik seutuhnya jika disertai dengan perlakuan baik terhadap orang-orang yang melihat kebaikan kita pada orang yang lain", iya saya pahami benar ini.


Ayah yang selalu menguatkan kepercayaan diri saya agar jadi gadis yang "baik", bukan jadi gadis yang "cantik". "Percaya saja..., suatu hari nanti kebaikanmu pasti akan teruji dari kesedihan orang-orang yang merasa kehilanganmu", sekarang ini saya merasakan hal itu, tersentuh melihat tanda tangan anak-anak ini pada buku pemberian mereka untuk saya. "Berartinya dirimu terlihat, bukan ketika seseorang memberikan sesuatu kepadamu, melainkan ketika orang-orang bersedih saat kehilanganmu".


Intinya:
"Ingat..., anak Bapak itu tidak perlu cantik tapi insyaAllah kalau baik nantinya orang akan melihatmu cantik", insyaAllah pak... Amin. Sejauh ini, masih merasa satu-satunya lelaki yang bisa menerima anak gadisnya dengan segala kekurangan dan apa adanya diri itu hanyalah Ayah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar