Selasa, 29 Maret 2011

GALI DAN JADILAH BESAR


Menjadi besar itu gampang, makan makanan yang banyak mengandung karbohidrat, dalam waktu sekian minggu atau paling lama dalam hitungan bulan, maka kau akan besar. Sesuai dengan kata-katanya "ingin jadi orang besara". Tapi bagaimana jika ingin menjadi orang "besar", jujur dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya belum bisa menemukan, ooh maaf, mungkin sudah saya temukan, saya lihat dan saya pelajari secara teoritis, hanya saja belum dapat saya aplikasikan. 
Banyak buku yang saya baca, dan tidak sedikit pula kisah yang dengar tentang motivasi diri. Menggali potensi dalam diri serta mampu mengakselerasi otak adalah cara yang sering kali menjadi panduan untuk memotivasi diri dalam buku serta kisah-kisah itu. Hal tersebut, jika buku yang saya baca adalah buku terbitan dari seorang penulis atau motivator ternama, begitu juga pada kisah-kisahnya, sudah pasti kisah itu bukanlah "kisah sembarang kisah". Terdengar begitu mudahnya bagi mereka yang mencetuskan teori tersebut dalam upaya meraih sukses. Namun pada kenyataannya, yaaahh seperti yang saya katakan tadi, SULIT!
SULIT? Tentu kata-kata semacam itulah yang paling mereka (pencetus teori) tentang, soal akselerasi otak, disinilah mereka berupaya membangunkan raksasa yang tertidur dalam otak manusia, secara keseluruhan bagian tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh kerja otak, otak lah yang menjadi otak semua aktivitas tubuh manusia. Tanpa disadari, sebenarnya otak juga dapat menjadi penentu kesuksesan seseorang. "Jika mampu mendayagunakan kemampuan otak seoptimal mungkin", kata mereka. Pernah saya coba aplikasikan, pada suatu waktu saya diberi tugas dan tanggung jawab, saat menerima tugas tersebut terlintas dengan cepatnya kata SULIT itu dalam pikiran saya. Belum saya kerjakan belum saya coba selesaikan, tapi entah kenapa kata tersebut muncul begitu saja dengan mudahnya, tanpa diminta dan tak perlu menunggu, kata itu datang dengan sendirinya seperti dikirim melalui post super kilat. Setiap orang pada dasarnya pasti akan mengeluh ketika "merasa" dibebani tugas. Maka dari itu, jangan "merasa" itu BEBAN, dari awal sudah keliru, jangan memebiasakan diri dengan "memvonis" terlebih dahulu baru "menghakimi".
Selanjutnya, katakan saja kewajiban, yang bertanggung jawab, maka akan semakin bangga jika kewajiban itu ia gunakan sebagai pembuktian bahwa ia adalah yang bertanggung jawab. Kemudian, biasakan untuk menempatkan kata MUDAH dalam pikiran. Remove kata SULIT dan kemudian ganti dengan kata "MUDAH".
MUDAH...MUDAH...MUDAH...MUDAH...! Sedikit meringankan "beban" tugas tersebut. Iya, memang benar-benar membiasakan diri saya untuk tidak memvonis sesuatu itu buruk sebelum saya benar-benar tahu yang sebenarnya dari proses pengahkiman satu hal/ persoalan/ masalah. Inikah yang dinamakan akselerasi otak? Lantas apakah ini juga yang dinamakan menggali potensi diri? Saya hanya bisa menafsirkan teori tersebut, bagaimana dengan tafsiran kalian? (mengenai "menggali potensi diri")
Apapun cara dan proses penggalian potensi dalam diri yang kau ketahui, cobalah aplikasikan. Semoga kelak bisa menjadi "orang besar".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar