Senin, 14 Maret 2011

TETAP ADA MESKIPUN TIADA

Apa yang pernah saya miliki dan akan saya miliki suatu saat akan "tidak lagi" saya miliki.
Tidak habis-habis rasa rindu saya kepadanya. Sesekali ingin saya coba lupakan kesedihan karena kehilangan, dan kecewa ketika ia tinggalkan saya. Terlalu banyak mimpi yang saya bangun dalam angan, namun sayang angan itu belum sempat saya pahat dalam wujud nyata. Mimpi kini hanya sebatas angan, pun angan kian hari kian terkikis asinnya air mata. Terpuruk, kata ini pernah menggambarkan diri saya ketika ia pergi tanpa pesan dan tanda kala itu. Rindu yang semakin menjadi, makin memojokkan saya di sudut ruang, dinding-dinding kian menghimpit, dan aku hanya mampu pandangi kaki yang seolah lumpuh ketika aku ingin menujumu. 
Saya akui, jiwa ini begitu rapuh, seperti matahari yang kalah oleh angin ketika mendung berbisik. Rapuh, juga dapat gambarkan aku pada saat itu, dan mungkin hingga sekarang. Saya rapuh, meskipun pada akhirnya roboh, saya tidak akan meratap, karena berhenti bukan berarti mati. Seseorang berkata, "cukuplah menangis, karena pada saat terlahir, kita juga menangis". Hmh! Tapi tetap saja aku menangis ketika rindu membalut malam, ketika mata tak henti memandangi gambarnya. Sungguh saya sangat merindukkannya, rindu pada Bapak.
Jujur saja, ketika itu saya benar-benar patah hati. Sepi itu begitu mendekap, harum namun menusuk layaknya mawar. Sepi juga membawa saya ke dekat-Nya, saya dengar Ia bersuara melalui hati saya, menenangkan dan juga menguatkan. Sang Maha Cinta menyatukan kembali hati yang patah, dan yang saya dengar mendayu di telinga "saat kamu kehilangan cinta, kamu tidak benar-benar kehilangan, karena sebenarnya cinta tetap bersemayam di hati dan ia akan hadir dalam wujud yang baru." 

#every fiber of my black heart
"Semoga wujud cinta yang baru, ada pada sosok calon suami saya kelak. Amin Allahumma Amin..."


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar