Minggu, 10 April 2011

ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT


Kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya, yaitu menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memperkenankan undangan, dan mengucapkan "yarhakumullah" (semoga Allah merahmatimu) ketika seseorang mengucapkan "Alhamdulilah" ketika bersin. Demikian diriwayatkan oleh Bukhari melalui sahabat Nabi Muhammad Saw., Abu Hurairah. Riwayat Imam Muslim dan Ahmad menggenapkannya menjadi enam hal, yaitu menasihati jika ia meminta nasihat. 
Dalam riwayat lain, pada hadist qudsi, Nabi bersabda bahwa Allah Azza wa Jalla (Yang Maha Mulia lagi Maha Agung) berfirman pada hari kemudian, "Hai putra Adam, Aku sakit maka mengapa engkau tidak menjengukKu?" Putra Adam menjawab, "Bagaimana aku menjengukMu, sedang Engkau adalah Tuhan seru sekalian alam?" Allah menjawab, "Tidakkah engkau mengetahui bahwa hambaKu si Fulan sakit, dan engkau tidak menjenguknya. Tidakkah engkau ketahui bahwa seandainya engkau menjenguknya, niscaya engkau menemukan Aku di sana." (HR Muslim)
Bukan hanya satu atau dua hadist Nabi Muhammad Saw. yang menganjurkan atau memerintahkan kaum Muslimin untuk menjenguk (menziarahi) orang sakit. Sampai-sampai ada ulama yang berpendapat bahwa menjenguk mereka bukan saja sunnah muakkadah (anjuran yang amat ditekankan), tetapi bahkan fardu kifayah. Artinya, jika tidak ada seseorang yang menjenguk si sakit., maka seluruh kaum Muslimin menanggung dosa. 
Mengungjungi si sakit adalah bukti rasa persaudaraan antarsesama, bahkan merupakan manifestasi dari perikemanusiaan. Oleh karena itu, kunjungan kepada si sakit merupakan ibadah dan yang melakukannya mendapat ganjaran dan pengampunan dari Allah Swt. Imam Ali bin Abi Thalib r.a. menyampaikan, "Saya mendengar Rasul Saw. bersabda, "Tidak seorang musliminpun menziarahi muslim yang lain pada pagi hari, kecuali berdoa untuknya tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari, dan apabila ia menjenguknya sore hari, berdoa untuknya tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan ia akan memperoleh buah-buahan surga yang telah dipetik."
Anjuran menziarahi hanya tertuju kepada sesama muslimin. Hal ini juga berlaku untuk nonMuslim, khususnya tetangga yang sakit. Nabi Saw. sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui sahabat dan pembantu beliau, Ans bin Malik, pernah menziarahi seorang Yahudi. Anjuran mengunjungi orang sakit tidak hanya terbatas bagi penderita penyakit-penyakit parah. Zaid bin Arqam menginformasikan bahwa Rasulullah Saw. pernah menziarahinya ketika ia menderita penyakit mata. Demikian diriwayatkan Abu Dawud.
ADAB ZIARAH
Pada dasarnya menziarahi orang sakit bertujuan untuk menambahkan ketabahan dan ketenangan serta optimisme kepada si sakit dan keluarganya. Atas dasar tujuan tersebut, agama memberikan tuntunan yang hendaknya menjadi perhatian semua pihak. Tuntunan tersebut ada yang berkaitan dengan waktu kunjungan dan lamanya, serta ucapan yang disampaikan.
1. Waktu Kunjungan
Ada riwayat yang menganjurkan agar si sakit dikunjungi setelah tiga hari sejak dari awal sakitnya. Ada juga riwayat lain yang menilai bahwa sejak hari pertama seseorang telah dianjurkan untuk berkunjung. Tanpa melakukan penilaian terhadap kualitas kedua riwayat yang dicantumkan oleh pakar hadist ath-Thabrani, dalam bukunya Al-Awsath dan Al-Kabir, agaknya kita dapat bersikap bahwa jika penyakit yang diderita diduga merupakan penyakit yang parah, maka dianjurkan adalah menjenguk si sakit sejak hari pertama. Akan tetapi, jika sakitnya tidak parah, kita dapat saja menangguhkan hingga hari ketiga dan sesudahnya.
Sejalan dengan tujuan ziarah, agama menganjurkan agar kunjungan tersebut tidak diadakan pada saat si sakit diduga sedang tidur atau istirahat. Oleh karena itu, merupakan satu hal yang sangat penting bagi kita untuk memerhatikan jam-jam kunjungan, baik yang ditetapkan oleh rumah sakit atau kebiasaan suatu masyarakat. Jangankan saat berkunjung kepada si sakit, saat-saat ketika anak tidak boleh masuk ke kamar orang tuanya ketika orang tuanya menanggalkan pakaian luarnya (saat istirahat) pada siang hari dan setelah shalat Isya (waktu tidur malam). Al-quran juga mengecam sejumlah orang yang dinamainya, "tidak berakal" karena ribut di luar kamar Nabi pada jam-jam istirahat. "Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (al-Hujuraat: 5)
Orang yang berkunjung dianjurkan untuk tidak berlama-lama agar tidak membosankan si sakit, tidak pula bertele-tele dalam bercakap, baik terhadap si sakit maupun keluarganya. Sahabat Nabi Saw., Ibnu Abbas, menginformasikan bahwa, "Merupakan sunnah mempersingkat kunjungan dan menghindarkan suara keras/ribut berkunjung." Ketika Nabi Saw. sakit menjelang wafatnya, para sahabat bersuara keras, berselisih pendapat dan ribut (di luar kamar Nabi). Ketika itu beliat mempersilahkan mereka meninggalkannya.
Larangan berlama-lama menyertai si sakit tentu dikecualikan jika si sakit sendiri yang mengharapkan kehadiran penjenguk itu, lebih lama dan si penjenguk menduga keras bahwa kehadirannya akan bermanfaat dan menyenangkan si sakit.
2. Cara Kunjungan
Sahabat Nabi, Abu Umamah, meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, "Kesempurnaan menjenguk si sakit adalah hendaknya penjenguk meletakkan tangannya ke dahi si sakit atau memegang tangannya sambil bertanya tentang keadaannya." Anjuran ini dilakukan bila keadaan si sakit memungkinkan. Jika tidak, pengunjung cukup memperlihatkan dirinya kepada si sakit. Bahkan bisa saja kunjungan tersebut terbatas tanpa melihat keadaannya, tetapi cukup bertemu dengan keluarganya sambil berdoa untuk si sakit. Keluarga yang ditanya pun hendaknya berdoa untuk si sakit.
Ali bin Abi Thalib r.a. setelah berkunjung pada Nabi saat sakit menjelang beliau wafat, ditanya sekian banyak orang yang tidak menemui Rasul, "Bagaimana keadaan Rasulullah Saw.?" Ali menjawab, "Alhamdulillah, beliau akan segera sembuh." Riwayat ini disampaikan Imam Bukhari melalui Ibnu Abbas. 
3. Sikap dan Ucapan
Sikap dan ucapan yang ditampilkan oleh penjenguk harus diupayakan agar melahirkan ketenangan, mencerminkan optimisme, dan menanamkan harapan indah bagi si sakit dan keluarganya."Kalau kamu menjenguk orang sakit, berilah ia harapan hidup/kesembuhan yang cepat, karena itu menyenangkan hatinya," demikian petunjuk Nabi Saw. sebagaimana diriwayatkan oleh at-Tarmidzi.
Ibnu Abbas menceritakan bahwa pernah ia melihat Nabi Saw. menjenguk orang sakit dan ketika itu beliau berkata, "Semoga tidak mengapa dan penyakitmu ini merupakan penyucian dosa penutup aib." Imam Ahmad, at-Tarmidzi, dan Abu Dawud meriwayatkan hadist dan Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Siapa saja yang menjenguk orang sakit yang belum sampai ajalnya lalu berdoa di hadapannya sebanyak tujuh kali mengucapkan, 'Aku mohon kepada Allah Yang Mahaagung, Pemilik singgasana nan agung agar menyembuhkan orang yang sakit ini,' niscaya Allah akan menyembuhkannya dari penyakitnya itu."
Bahkan, penyakit juga menjadi sebab ketinggian derajat pada hari kemudian. Demikian terlihat bahwa seseorang seharusnya memberi rasa optimis terhadap si sakit dan tidak menampakkan kegelisahan terhadap penyakit yang dideritanya. Jika si sakit sendiri telah menyadari betapa parah penyakit yang dideritanya, penjenguk dianjurkan untuk menekankan perlunya kesabaran dalam menghadapi cobaan itu sambil mengingatkan ganjaran yang disajikan Allah bagi orang yang bersabar menerima cobaan. Agama melarang keras seseorang untuk berputus asa dari rahmat Allah. Bahkan agama bukan saja melarang manusia melakukan langkah yang dapat mengakhiri hidup, tapi juga berdoa untuk mati.
Nabi Saw. bersabda, "Jangan seorangpun di antara kamu mengharapkan kematian akibat kesulitan hidup yang kamu derita; tetapi jika itu harus kamu lakukan, maka hendaklah kamu berdoa, 'Hidupkan aku selama kehidupan baik untukku dan matikanlah aku jika kematian baik untukku." (HR Bukhari dan Muslim)
Si sakit dan keluarganya dituntut berprasangka baik terhadap Allah. "Aku bersama dengan persangkaan hamba-Ku." 
Bukan hanya satu atau dua kali kita mendengar atau melihat orang yang telah divonis mati oleh dokter, ternyata kesehatannya dapat pulih kembali, bahkan segar bugar. Demikianlah, berprasangka buruk saja dilarang, apalagi kalau menggerutu atau mempersalahkanNya. Memang tidak ada salahnya seorang mengeluh kepada Allah, sebagaimana Nabi Ayyub yang ditimpa penyakit parah, beliau pernah mengeluh, "...(Ya Allah) sesungguhnya aku diganggu oleh setan dengan kepayahan dan siksaan." (Shaad: 41). Akan tetapi, seperti kita lihat di atas, beliau tidak mempersalahkan Allah. Karena itu, Allah menyembuhkannya.
Tidak ada salahnya penjenguk bertanya kepada si sakit tentang makanannya. Ibnu Abbas bercerita bahwa suatu ketika Nabi Saw. menjenguk seseorang yang sakit, beliau bertanya, "Makanan apa yang engkau inginkan?" Si sakit menjawab, "Roti." Nabi Saw. bersabda, "Siapa yang mempunyai roti, hendaklah ia mengirimkan kepada saudaranya (yang sakit ini)." Kemudian beliau melanjutkan, "Apabila seorang yang sakit menginginkan sesuatu, hendaklah kalian penuhi keinginannya." Namun, tentunya dengan makanan yang tidak mengakibatkan keterlambatan penyembuhan atau memperparah penyakitnya. Untuk menilai hal ini, tentu seorang dokter lebih memunyai otoritas.
Makanan yang diberikan tersebut, kalaupun tidak dimakan si sakit, diharapkan dapat dinikmati oleh penjaga atau perawat si sakit sehingga mengurangi kesibukan mereka dalam mempersiapkan makanan. Dengan demikian, diharapkan dapat menambah konsentrasi mereka dalam menjaga dan melayani si sakit.
Dalam beberapa riwayat ditemukan pula anjuran agar si penjenguk meminta kepada si sakit untuk mendoakannya. Dari Umar r.a. disampaikan bahwa Nabi Saw. bersabda, "Kalau kamu berkunjung kepada orang sakit, mintalah kepadanya agar dia mendoakan engkau karena doa si sakit serupa doa malaikat." (HR al-Quzwaini) perlu dicatat bahwa anjuran ini hanya berlaku jika si sakit dikenal sebagai seorang yang taat beragama lagi saleh.
(Sumber: "Bersama Ayah di Rumah Sakit")

_AKU_
Saat ayah saya sakit, saya tidak sempat memberikan doa dan melakukan adab-adab seperti yang dijelaskan di atas, karena ayah pergi begitu cepat, berbaring selama 5 jam di rumah sakit sejak ia tak sadarkan diri ketika tidur malamnya. Untuk melihatnya saja menjelang detik-detik terakhirnya, saya tidak punya kesempatan karena peraturan rumah sakit yang tidak mengizinkan pengunjung masuk sebelum jam besuk dimulai, meskipun keluarganya, meskipun saya adalah anaknya sendiri, hanya ibu yang boleh masuk dan mengantarnya sampai di penghabisan. Saya tidak menyesal akan hal itu, karena sepeninggalnya, begitu banyak orang yang bersedih dan kehilangan serta mendoakan akan kelapangan dan kemudahannya mencapai surga di alam sana. (Amin Allahumma Amin)
Ketika paman saya (adik laki-laki bungsu ayah) sakit keras di rumah sakit, lebih dari 3 kali saya menjenguk, hanya saja lebih banyak hanya bertemu keluarganya saja, karena paman dirawat di ruang perawatan intensif, ICCU. Sangat tidak memungkinkan untuk menjenguknya langsung, kadang hanya bisa melihatnya dari balik kaca jendela ruang perawatan. Karena hal tersebut, saya berpikir, cukup doa dan harapan yang saya mohonkan padaNya demi kesembuhan paman saya tiap kali menjalankan sholat 5 waktu. Hingga kadang ketika diajak ibu untuk menjenguk paman, saya menolak (karena belum tahu akan "adab dan ganjaran apa saat menjenguk orang sakit"), hal itu semata-mata bukan karena saya tidak ingin, tapi karena tidak tega, ketika melihat paman saya terbaring lemah tidak sadarkan diri, sering kali yang ada dipikiran saya adalah bahwa sosok yang terbaring disana itu ayah saya. Saya merindukan ayah, tiap kali melihat paman saya.
Sampai akhirnya saya menemukan catatan ini pada sebuah buku yang saya beli setahun lalu, tertarik membelinya hanya karena buku ini bercerita tentang AYAH. Hari-hari pertama kehilangan ayah, saya sungguh terpukul, segala sesuatu tentang ayah, hal sekecil apapun yang ada kaitannya dengan ayah, begitu melekat di otak saya. Hal-hal kecil tentang ayah itupun saya kumpulkan, agar dapat menghapus kesedihan dan menggantinya dengan keikhlasan. Catatan ini saya bagi untuk kalian yang mungkin salah satu anggota keluarganya sedang diuji oleh Allah dengan suatu penyakit, apakah itu parah atau yang ringan sekalipun.
Sungguh pelajaran berharga dalam hidup adalah pengalaman, dan guru yang baik adalah "keikhlasan". Satu hal lagi, berdoalah kepadaNya untuk mereka yang sedang dicoba, karena doa para sahabat dan keluarga, insyaAllah akan diijabah."

5 komentar:

  1. great article ...

    BalasHapus
  2. mbak, boleh tidak saya mendapatkan gambar diatas? Sy butuh ilustrasi utk gambar orang sakit utk tugas kampus saya. Dapat dimana ya Mbak? Terimakasih. Daim Syukriyah

    BalasHapus
  3. silahkan... gambar itu saya dapat di google image

    BalasHapus
  4. thx....:)
    saya minta gambar ya...:)
    visit my blog: syauqyaladawiyah.blogspot.com

    BalasHapus