Rabu, 27 April 2011

BICARA

 Ada kalanya saya lari dari semua pembicaraan, saya sembunyi dari semua yang dapat saya dengar, dan saya menjauh dari semua yang dapat saya hirup terkecuali oksigen. Semuanya saya lakukan semata-mata ingin bernapas lega, baik itu dari apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka dengar, dan apa yang mereka tuduhkan terhadap saya.
Saya sudah terbiasa sendiri, meskipun sejujurnya saya lebih senang jika bersama seseorang yang dapat menemani dalam situasi apapun. Tapi saya rasa itu hanya "ingin", entah dapat terwujud atau tidak, saya tidak begitu berharap.
Setiap orang memiliki masalah, tidak cuma saya. Maka dari itu, saya lebih memilih menjauh dan tidak berbagi. Saya batasi bibir ini untuk berucap, saya pagari mata ini agar tidak menangis, sehingga mengungkapkan gundah maupun indah kadang saya enggan. Sering kali berpikir akan berteriak karena tidak sanggup menahan beban, namun pastinya akan menggangu sekitar. Di sini sudah terlalu penat, sampai-sampai mencari tempat sepi untuk sekedar mengeluarkan satu terikan pun sulit. Sesak, padat, dan begitu menghimpit. Apa? Ruang gerak dan ruang hati, begitu sempit. Mendapat izin wilayah untuk ekspansi hati sendiri saja begitu sulitnya, bagaimana untuk ruang gerak. Sampai akhirnya gerak menjadi lumpuh, dan hati kini terkena polusi. Macet, krisis, mandek, bahkan teror dimana-mana. "Inilah hidup, bukan hidup namanya jika tanpa masalah." Ya ya ya...
Satu-satunya ruang yang mampu menyembunyikan kecemasan ini hanyalah "diam". Setiap hari saya sembunyi dalam diam. Sendirian dalam diam. Diam kadang menenangkan namun kadang menyebalkan, karena tak seorang pun inginkan saya untuk diam walaupun hanya sejenak. Masih saja sulit jika harus lari dari berondongan pertanyaan, sebuah pertanyaan bagi saya, tidak ubahnya seperti di dorong oleh kereta listrik buatan Jepang.
Pada akhirnya hal tersebut juga membuat saya jadi bosan diam, kembali lagi, saya ingin berteriak lantang, menembus setiap celah dan memecah gendang telinga siapapun. Saya tidak peduli.
Tapi hal itu tidak mungkin saya lakukan, karena berteriak bukan jalan terbaik untuk melepas gusar yang membelenggu diri untuk terus menikmati kebahagiaan. Jika mereka bicara, saya diam. Kemudian mereka diam maka saya akan lari. Dan apabila mereka mencium aroma "pengecut" dari tubuh ini.., biarlah.
Mereka hanya tidak tahu, ketika saya lari, dan di saat saya diam. Saya mengabadikan sesuatu, bertanya pada hati, dan berbincang pada pena, kemudian berdiskusi dengan setumpuk kertas. Yah! Saya menulis. Hanya ini yang saya punya, ketika mereka jenuh mendengar keluh kesah saya. Karena dengan menulis, saya mendapat ruang yang begitu luas lega bernapas, dan bebas bergerak. Meskipun hanya putih-putih sejauh mata ini merayapinya. Berjalan pelan dalam tiap kata, selanjutnya berlari kencang melewati beberapa kalimat, hingga sampailah pada sebuah lukisan yang tercipta dari huruf dan tanda baca. Namun..., menulis juga berhasil membuat saya jadi jenuh. Sampai akhirnya saya harus memilih untuk kembali bicara. Bicara padaNya. Mengungkapkan, meminta, dan berserah hanya kepadaNya.

#Semoga Engkau mendengar doa-doa dan mengabulkan permohonan hambaMu yang hina ini. Karena Engkau lah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, tiadak suatu dosa pun yang tidak Kau ampuni terkecuali perbuatan syiriq, tiada suatu doa pun yang tidak Kau kabulkan, doa dari siapaun dan apapun. Amin Allahumma Amin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar