Senin, 18 April 2011

"CANTIK"


Tidak sedikit wanita yang boros hanya untuk membeli perlengkapan kecantikan seperti kosmetik dari wajah sampai ke seluruh tubuh, termasuk rambut. Setiap minggu, seorang wanita rela menghabiskan waktunya di salon selama berjam-jam dalam jangka waktu 1-3 kali seminggu. Huft! Itu mereka, tidak termasuk saya. Sempat terpikir untuk menjadi seperti mereka dengan gaya hidupnya yang dipenuhi polesan. Apa itu cat kayu, minyak, atau sekedar taburan tepung yang menyebar rata di seluruh wajah namun tidak pada leher, hingga terkadang, perbedaan warna kulit wajah yang begitu putih cerah sungguh kontras dengan kulit leher yang berwarna gelap.
Sering kali aku memerhatikan mereka, dari tata rias wajah, accesoris yang dikenakan, pakaian, dan gerak mereka. Memang tidak dapat dikatakan bahwa semua yang berdandan itu akan terlihat "menor", ada juga yang "cantik". Iya, saya akui mereka sangat cantik dengan riasan itu, tapi terkadang tetap saja ada yang kurang di mata saya. Pada umumnya kecantikan yang saya lihat dari di luar tidak seperti di dalamnya (perkataan klasik). Maka muncul pikiran saya, jika kelak saya sudah pandai berdandan semoga dandanan saya tidak dinilai "menor" oleh yang melihatnya, dan tetap dianggap "cantik" baik itu luar maupun dalam. 
Hmmm, tidak saya sangka ternyata berdandan itu sulit! Sulit dari bagaimana menggunakan semua perlengkapan riasan itu, sampai sebegitu sulit saya menerima kenyataan bahwa wajah saya harus tampak benar-benar berbeda dan berwarna setelahnya. (Hahaha...KATRO!!) Akhirnya yah dihapus lagi. Yah, seperti itulah pengalaman saya ketika mulai belajar berdandan, pertama kali saya coba kemudian saya hapus kembali. Kedua kalinya saya coba namun tetap saya biarkan (mencoba jadi percaya diri). Ketiga kalinya saya kenakan, saya memberanikan diri bertemu dengan orang-orang dengan kondisi saya yang sedemikian rupa tersebut. Tanggapannya..., "bagus bah....", cukup menghibur! Meskipun kesannya seperti agar aku tetap percaya diri, entah bagus sungguhan atau hanya pujian ala kadarnya (fine..). Kelima, keenam, ketujuh, kesembilan, dan seterusnya, keterampilan saya melukis wajah sedikit demi sedikit mulai terlatih, hingga pada akhirnya ada seorang teman yang tertarik dengan cara saya merias wajah, dan meminta saya untuk mengajarkannya. Oho..., betapa malunya..., hendak mengajarkan orang lain sedang untuk diri sendiri saja masih amatir untuk hal yang satu ini. Bagi saya riasan minimalis sudah cukup, make simpel, karena saya sederhana.
Hal ini saya lakukan semata-mata ingin terlihat menarik seperti mereka (naluri seorang gadis yang beranjak dewasa). Ikut-ikutan kan tidak mengapa, yang penting positif aja.... (ya kan?). So, berdandan sekarang jadi ritual setelah mandi dan hendak berpergian. Sedangkan perawatan ke salon, mmm...sampai sekarang masih belum terpikir, cukup perawatan sederhana di rumah. Demi siapa sebenarnya saya lakukan ini? Haha... (Entahlah....)
Berdandan itu perlu, namun tidak terlalu penting. Asalkan berpenampilan rapi dan bersih, sebenarnya perempuan akan tetap terlihat cantik. Terlebih lagi jika kecantikan itu diimbangi juga dengan sikap dan tutur kata yang santun. Ada yang bilang, "sesungguhnya kecantikan seorang wanita itu datangnya dari hati", katakanlah inner beauty. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa air wudhu adalah kosmetik untuk wanita muslim. Semoga kita semua (ukhti) adalah sosok perempuan yang kecantikkannya terpancar dari hati. Amin...

2 komentar:

  1. Kita samaaa hehehe.. Slain ndak bise dandan, paling risih same lipstik, alas bedak dan hal2 yg biasa dipake para wanita pada umumnya. Alhamdulillah dapat suami yg lebih suke ngeliat muke ni alami :D

    Pake bedak bayi same lip gloss jadi lah hehehe..

    BalasHapus
  2. haha...,sesama din.., tapi skg dah pandailah sikit2 pake eyeliner (sunnah nabi
    Makin besak mate nih pake itu. :D

    BalasHapus