Rabu, 20 April 2011

CORETAN BODOH


Hay tembok! Kenapa kau betah berdiam, membisu dan tidak bersuara sedikit pun. Padahal aku tahu, kau kepanasan ketika sisi luarmu terkena sengatan matahari yang terik menggigit, dan kau juga kedinginan bukan? Ketika kau tetap harus berada di luar sementara cuaca malam kian waktu kian membeku. Selain itu aku juga bingung denganmu tembok bagian luar, tidakkah kau iri melihat saudaramu yang tetap berada di dalam, kenapa kalian tidak saling membantu, bergiliran kan atau saling melindungi satu sama lain ketika yang satu terkena panas, dan yang mengigil kedinginan. Hhaaa entahlah! Dasar tembok yang bodoh!
Hay jendela! Kau sama saja dengan tembok bahkan kupikir kau lebih bodoh lagi daripadanya. Kerjamu hanya terdiam, tidak sedikitpun mengeluhkan panas dan dinginnya air hujan atau cuaca malam. Satu hal yang tidak kusuka darimu, kau selalu membiarkan cahaya matahari yang menyengat itu masuk ke dalam ruanganku. Hha! Apa saja kerjamu, kau hanya diam, tidak sekali kau ingin membalas marahku padamu. Ya sudahlah.
Hay pintu! Oups, aku lupa tidak ada pintu di ruanganku, hanya tirai yang menutupi jalan masuk menuju ruangan ini. Baiklah.., lemari? Yak, lemari! Hey lemari! Masih tidakkah kau ingin muntah dengan semua pakaian yang aku taruh berantakan dan kugantung sembarang di dalam rakmu. Jika ingin muntah, muntahlah...biar aku memiliki alasan untuk membuangmu dan menggantinya dengan yang baru, yang lebih besar. Tapi sepertinya itu tidak akan kulakukan, membuangmu sama saja membuang uangku, baru setahun lalu aku mengganti lemari lamaku dengan dirimu sekarang. Bernafaslah lebih lega, karena masih ada rasa kasih dalam diriku meski untuk benda mati sepertimu. Hoo? Benda mati?? *Baru tersadar.
Pantas saja sedari tadi aku bicara pada mereka, tembok, jendela, dan lemari ini sama sekali mereka tidak menggubris semua perkataanku. Hahaha..., maaf aku mengatai kalian dengan sebutan bodoh, ternyata aku yang tidak pintar. Kuharap kalian maklum, berhari-hari sepanjang waktu yang aku lakukan disini hanya diam, tidak seorangpun manusia yang menemaniku yang setidaknya bisa menemaniku berbicara. Aku sendiri dalam ruangan ini.
Tiba-tiba.
"Kamu tidak sendiri, ada kami disini yang menamimu", entah darimana suara-suara itu berasal. Aku mencari dalam tiap lipatan lemari, kupikir ada orang yang bersembunyi disana. Aku buka jendela, mungkin ada yang bergelantungan goredenku yang menyeruak keluar, tapi tidak seorangpun kutemukan disana. Lalu aku keluar, menuju balkon yang terhubung langsung dengan tembok luar ruanganku, kubergegas, namun...tidak ada seseorangpun yang bisa menempel didinding, terkecuali barangkali ada yang memanjat menggunakan tangga dan kemudian menempelkan mulutnya ke sisi tembok.
Aku kembali masuk ke ruangan. Apa yang kulihat ketika masuk? Kalian pikir mungkin aku gila, tapi ini sungguh terjadi, dan benar-benar aku lihat ternyata...tidak seorang pun ada dalam ruanganku. HHaaa mengecewakan yah? HAhaHAhaHA. Jadi siapa yang bersuara tadi??? KKKKKYYYYYYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!! Aku merinding! Siapa? Aku hanya bisa berkata "Siapa" dan Siapa" dalam hati, jantungku berdegup, detak-detik degup jantung yang begitu menggebu mencipatakan nada yang begitu sumbang, kacau tidak keruan. Siapa? Ingin berteriak, tapi....tiba-tiba aku kembali mendengar suara-suara tadi, "kami akan selalu bersamamu..", kali ini suaranya begitu jelas terdengar, arah suara itu kudengar dari luar jendela balkon. Aku menuju balkon, mencari kemana arah suara itu. Fyuuuuh..., kali ini aku bisa bernafas lega. Kalau tahu dari tadi ternyata suara itu dari tetangga sebelah yang anaknya sedang latihan drama bersama teman-temannya... Hhhuuft. Ya baiklah..., jadi disini, dalam ruangan ini aku memang SeeennnDiiiiiiiRiiiiiiiii.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar