Rabu, 20 April 2011

KURA-KURA RAKUS


Saya bukanlah orang yang tertarik dengan dunia politik. Bagi saya sekarang ini politik hanyalah ladang basah untuk mencari keuntungan dengan cara haram oleh tikus-tikus itu. Satu-satunya alasan kenapa saya katakan demikian karena saya muak dengan birokrasi yang dijalankan oleh pemerintah di salah satu daerah yang saya ketahui. Saya tidak tahu penyebab pasti masalah ini muncul dari mana. Begitu banyak opini dan pemberitaan yang tidak jelas datangnya. Semua yang saya dengar hanya berasal dari "kata orang", namun tidak pernah sekalipun saya melihat orang tersebut berkata apa pada kenyataannya.
Saya menulis bukan untuk kepentingan saya semata, saya simpati dengan usaha teman-teman yang hendak memperjuangkan nasibnya meskipun cara atau keputusan yang mereka pilih dirasa menyulitkan diri mereka sendiri. Setidaknya ada nilai untuk sebuah usaha yang mereka lakukan. Maaf saja, jika saya tidak mengindahkan keputusan kalian, teman. Karena saya sedang belajar memahami permasalahan ini dengan cara saya sendiri, dengan bersabar dan bertawakal Saya hanya bisa berdoa semoga usaha kalian berhasil, karena apapun yang kalian lakukan itu juga untuk kepentingan bersama.
Kembali lagi soal permasalahan tadi. Masalah ini muncul tidak lepas dari apa yang disebut kecurangan. Dari dulu hingga sekarang, satu hal yang paling tidak saya dukung adalah "permainan curang" (semoga saya tetap pada jalur pemikiran saya yang sekarang, karena Bapak sudah mendidik saya sedemikian rupa untuk tetap jujur dalam situasi apapun). Amin Ya Allah (Kuatkan hati ini). Hal ini berawal dari sebuah berita yang menginformasikan bahwa perekrutan CPNS yang saya ikuti di suatu daerah telah terjadi kecurangan. Baik, saya terima itu, karena memang pada umumnya untuk menjadi PNS itu sulit, sudah menjadi hal yang lazim seseorang yang berambisi ingin menjadi PNS lantas mencari jalan mudah untuk memenuhi keinginanya tersebut. "Suap", itulah caranya, melazimkan sesuatu yang sebenarnya tidak lazim. Lumrah, biasa atau apalah bahasanya, tapi tetap saja itu tidak adil buat saya dan mungkin teman-teman yang sekarang sedang memperjuangkan nasibnya. Jika memang yang melakukan kecurangan itu hanya beberapa orang, kenapa lantas jalan yang diambil itu justru mengorbankan saya dan teman-teman, mengorbankan kami yang sebenarnya tidak tahu duduk permasalahan soal kecurangan ini. 
Apa masalah ini akan terus menggantung seperti kasus-kasus besar di negara ini? Atau akan terus diberitakan seperti kasus video porno artis? Kemudian sampai kapan permasalahan ini akan selesai, jika masih saja menuruti ego orang-orang tua itu. Heran, semakin luas jidad mereka, semakin sempit saja pemikirannya. Mungkin saya hanya orang awam yang tidak tahu serumit apa tahap penyelesaian masalah ini, tapi yang saya ketahui juga orang lain ketahui, sejak dulu proses dalam dunia politik sering kali harus menggunakan "pelicin" istilah kasarnya "suap" seperti yang tadi saya singgung sebelumnya, yah mereka begitu lapar hingga harus disuap terlebih dahulu agar kerja mereka menjadi tidak lambat. Kura-kura rakus, kerjanya lambat tapi makannya banyak. Apa hal itu juga yang harus saya lakukan? Menyuap mereka? Aarrgh! Benci harus mengaku bahwa saya "tidak punya apa-apa", tidak ada materi lebih untuk menyuapi mereka. Saya hanya punya sebidang tanah warisan orang tua, dan mungkin itupun tidak cukup untuk menyuapi mereka yang "selalu lapar". Jika pun cukup, mungkin hanya untuk persiapan rumah masa depan mereka, haaah tapi sepertinya itupun tidak cukup, karena mereka perlu banyak ruang untuk menyimpan semua harta bendanya yang begitu melimpah. Kenapa? Karena yang mereka pikirkan tidak lebih dari kepuasan duniawi saja (mungkin).
Cukup untuk semua ini, jika kelak masalah ini selesai. Kuharap suatu saat nanti saya punya keberanian untuk bicara, bukan sekedar menulis seperti ini. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada pemimpin (yang merasa dirinya bijak), saya ingin menyampaikan pesan seorang pemilik usaha makanan siap saji ala turki yang mangkal di depan sebuah supermarket di kota tempat tinggal saya, ia bilang, "Bah'lul ente...", sekian dan terima kasih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar