Kamis, 28 April 2011

REHAT


Masalah, ujian yang harus diselesaikan setiap orang selama duduk di bangku kehidupan. Setiap hari orang-orang akan terus belajar bagaimana menyelesaikan, berpikir mencari buku dan contoh untuk mengerjakannya, namun tidak sedikit orang yang memilih untuk mengabaikan PR kehidupannya. Penyebabnya bisa saja karena salah satu faktor paling umum, jenuh. Ia, penyampaian suatu materi pembelajaran yang monoton tentunya akan sangat membosankan. Maka dari itu, saya di sini sengaja bolos dari sekolah itu untuk beberapa hari, minggu atau mungkin bulan hingga tahun. Sekali lagi, jika memang orang lain mencium aroma pengecut itu dari surat izin yang saya karang untuk mengelabui seorang guru yang bernama "pengalaman" ini. Biarlah!
Memang pada dasarnya dengan membolos, tidak akan menyelesaikan masalah ini. Cepat atau lambat saya harus kembali masuk ke sekolah, apa itu karena kemauan saya sendiri atau karena mendapat peringatan dari sekolah yang mengharuskan saya untuk kembali bersekolah seperti biasanya, seperti biasanya? Bagi saya semester kali ini sungguh sangat tidak biasa. Begitu banyak PR dan tugas terstruktur yang harus dikerjakan, entah kapan akan selesai, karena tugas itu diberikan bertubi-tubi, belum dapat saya selesaikan satu, kemudian ada lagi tugas yang lain. Hal ini yang membuat saya lebih banyak berpikir ketimbang harus bergerak. Kenapa? Karena tugas ini fiktif (menurut saya), tugas diberikan, tanpa penjelasan, tanpa contoh, dan lebih parah lagi tanpa pernah diberi kepastian kapan akan diserahkan. Menggantung! Bagaimana tidak saya jadi kesal dibuatnya.
Terpaksa saya abaikan, terserah jika ingin menghukum, apapun konsekuensinya saya terima (semoga). Entah apa yang harus saya lakukan, harus mulai dari mana, harus mencari materi apa untuk menyelesaikan tugas kali ini. 
"Kenapa aku selalu terjebak akan ketidakmengertian dalam teka-teki yang Kau beri nama takdir? Sampai kapan Kau diam, tidakkah Kau dengar permintaanku? Jika memang permintaan ini bukanlah keinginan yang sebenarnya tidak atau belum aku butuhkan, tapi tentunya bukan berarti ratusan orang disana juga tidak membutuhkannya! Sekesalnya aku padaMu, tidak sekali aku berprasangka buruk atas kuasaMu, karena sesungguhnya aku tahu, Kau selalu mengingatku sebagaimana aku yang tidak pernah menyangkalMu"
........................................
Dan, sekarang biarkan saya istirahat sejenak. Jangan curigai lagi siapa yang menulis dan menandatangani surat itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar