Senin, 09 Mei 2011

AUFKLARUNG

Ketika gelap, banyak yang mencari terang. Ketika hujan, banyak yang mencari matahari. Ketika dingin, banyak yang mencari panas, atau sebaliknya. Sesungguhnya gelap dan terang itu berteman baik, kenapa? Karena gelap memperkenalkan kita akan terang, dan gelap juga mengajarkan kerendahan diri, gelap tidak ingin menjadi terang meskipun tidak jarang ia terlupakan ketika seseorang telah akrab dengan terang. Gelap tetap menjadi gelap, meskipun gelap juga sering kali dipersalahkan saat seseorang memojokkannya sebagai "biang kerok" perubahan hidup yang bermula baik kemudian menjadi jahat. Gelap tidak membela diri apalagi menentang.
Selain gelap, hujan juga sering dipersalahkan karena dianggap sudah mematahkan langkah orang-orang yang hendak beraktivitas, di luar rumah tentunya. Hujan diharapkan ketika kering dan panas melanda tanah ini, tapi ketika ia datang, tidak sedikit yang memintanya pergi lagi. Seperti tidak dihargai. Tapi meskipun begitu, hujan tetap turun pada musimnya, ia manfaatkan waktu yang diberikan, ia jalankan amanah untuk menyampaikan pesan kehidupan dari sang Khaliq. Hujan yang turun deras memang kadang membawa juga "pesan yang lain" dariNya, tapi dikesudahan hadirnya, Ia sajikan lukisan alam terindah. Pelangi.
Gelap memintamu untuk mencari terang, terang yang kamu temukan, tidak sekedar memberi cahaya, tapi juga rasa. Rasa syukur. Sekecil apapun cahaya itu, gelap juga memintamu untuk bersabar, hingga kelak kamu temukan cahaya yang lebih menerangkan. Begitu pula pada hujan, setelah panas yang menyengat kulit, hujan berusaha memberikanmu kenikmatan sejuk yang memeluk tubuh. Entah kenapa, hidup yang saya pahami memang tidak lepas dari hitam dan putih. Dari hitam yang saya alami, saya banyak belajar untuk tetap "kuat", dan putih yang saya nikmati, saya berharap tidak akan "lupa" dengan adanya hitam. Semuanya terlepas dari pembenaran terhadap konteks makna yang berbeda dari "hitam" dan "putih" yang selama ini umum didefinisikan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar