Rabu, 04 Mei 2011

دعم الكبد


Tidak banyak cerita yang keluar dari mulut ini kepada yang lain, selagi dulu ada dia. Aku kuat, aku yang pendiam, tak banyak bicara, namun aku begitu bersuara di depannya. Bercerita, menangis, tertawa, dan kesal semauku di hadapannya. Ketika aku bersuara, ia tidak, hanya dua kata, “iya..” dan “yasudahlah…” namun bagaimanapun ekspresi yang aku tunjukkan untuk mengungkapkan rasa, untuk membalas semua itu ia hanya punya satu ekspresi, tersenyum. Hingga sekarang, sampai ia tidak lagi ada, yang aku ingat hanya senyum. Ia tidak memihak dan juga tidak menentang, karena yang aku butuhkan darinya, cukup "selalu ada" untukku.
Jika hidup ini baik untuk dilanjutkan tanpanya, satu harapanku. “Semoga aku dapat temukan yang sepertinya”. Tapi hal itu tidak mungkin, aku tahu itu. Aku salah jika harus membandingkan, menyama-nyamakan, atau bahkan mengubah seseorang yang lain agar dapat menjadi dirinya.
Sekarang situasi yang aku hadapai kian hari kian pelik, kabar-kabar kematian setelah sepeninggal dirinya, semakin membuatku terpuruk dalam liang dosa yang menganga lebar, siap menelanku, mengunyah jasad dan jiwa ini hingga hancur berkeping-keping. Sudah kubayangkan sakitnya siksa kubur, kuimajinasikan dalam pikiranku bagaimana ekspresi mereka yang aku tinggalkan, dan pastinya tidak lepas hasrat ini menanti pertemuan dengannya disana. Akhir-akhir ini, entah kenapa aku enggan menatap indah langit, meski aku tahu birunya membuat aku lupa akan gelap awan mendung saat hujan deras melanda. Aku malu jika tertawa, ketika mengingat tangisan-tangisan itu. Dan aku sungguh tidak berselera saat dihadapkan dengan kenikmatan duniawi, karena sekarang yang melekat dan terus menghantuiku adalah hari-hari jelang kepergian kali nanti.
Di lain sisi aku ingin segera bertemu dengannya, aku ingin kembali melihat senyumannya. Tapi di sisi yang lainnya lagi, aku sedih…teramat sedih hingga tak mampu aku tahan menetesnya air mata ini ketika membayangkan tangis mereka. (Jika memang ketiadaanku memang pantas untuk ditangisi)
Inilah yang aku rasa sekarang. Kalimat-kalimatku kososng, kata-kataku juga tak lagi bernyawa. Apa yang mereka bahas bahwa hidup ini realitas, tapi bagiku saat ini tidak ada beda dengan suatu kompetensi yang dalam aturan permainannya, “kau hanya diberi waktu berdiri dan bersabar serta bersikap baik, sambil menunggu tiket menuju kematianmu diberikan”, teringat dengan suatu penggalan puisi karya seorang pelopor bahwa “hidup hanya menunda kekalahan”. Aku bernyawa, tapi jasadku tak lagi hidup. Aku telah kehilangan sandaran disini.


"Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa tepi, bolehkah aku mendengarMu, tubuh dalam emosi, tak bisa bersembunyi, aku dan nafasku merindukanMu, terpuruk ku di sini. terangi sepi, dan ku tahu pasti, Kau menemani dalam hidupku, kesendirianku. Teringat ku teringat, pada janjiMu ku terikat, hanya sekejap ku berdiri, kulakukan sepenuh hati, peduli ku peduli, siang dan malam yang berganti, pedihku ini tak ada arti, jika Kaulah sandatan hati, Kaulah sandaran hati, sandaran hati.... Inikah yang Kau mau, benarkah ini jalanMu, hanyalah Engkau yang ku tuju, pegang erat tanganku, bimbing langkah kakiku, aku hilang arah, tanpa hadirMu dalam gelapnya malam harik..." (Lirik by Letto "Sandaran Hati)

# Semua masalah yang tengah aku hadapi sekarang memang benar terkait dengan stabilitas emosi diriku, atas semua itu, maka yang aku butuhkan disini adalah sandaran yang sepertinya. Tapi itu tidak mungkin, benar-benar tidak mungkin, oleh karena itu yang aku harapkan satu-satunya menjadi sandaran adalah Kau, Kau yang ingin aku tuju. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar