Senin, 02 Mei 2011

BUKAN KISAH KASIH DI SEKOLAH

Hari-hari semakin mengabur, terkadang aku lupa dengan kehidupanku yang sebenarnya di dunia nyata. Aku terasing, aku sendiri, dan bahkan hampir terlepas dari segala norma yang menyebut manusia adalah sebagai makhluk sosial. Berbulan-bulan aku hirup udara hanya sebatas ruangan ukuran 3x3 meter, tidak ada lagi papan putih yang bercoretkan spidol hitam, susunan bangku yang berjajar 4 di depan dan berbaris 5 ke belakang, jendela-jendela yang berdebu dengan tirai kusam seadanya, dan sebuah podium ukuran sedang tempat biasa aku berdiri, menyampaikan materi sesuai bidang pengetahuanku, berbagi, tertawa, meskipun kadang ada kesal dan marah terhadap tingkah menjengkelkan mereka. Iya, aku merindukan mereka.
Merindukan sapaan hangat dari seorang penjaga sekolah yang biasa berbenah di ruangan kantor sebelum guru-guru lainnya datang. Ingin lagi menikmati sepi lingkungan sekolah ketika pagi dengan segelas teh panas yang tersedia di meja kerja, sambil sesekali mata tertuju ke luar jendela melihat siswa satu per satu datang memasuki gerbang, ada yang berjalan kaki, dan ada juga yang menggunakan kendaraan. Tampak beragam, tapi di mata saya mereka tetap seragam. Riuh rendah suara langkah mereka menuju kelas saat bel tanda pelajaran dimulai berbunyi, ada yang berjalan santai dan ada pula yang tergesa-gesa agar bisa mendahului guru yang hampir memasuki kelas, langkah mereka berbeda, tapi bagi saya tujuan mereka sama. Hmm, entahlah..., aku benar-benar merindukan suasana itu.
Ingin sekali melihat lagi berbagai ekspresi dalam ruang kelas ketika pelajaran berlangsung, gerak mereka, respon mereka, dan jawaban-jawaban aneh mereka ketika aku beri pertanyaan menyangkut materi yang aku sampaikan. Tapi sekarang tidak lagi dapat kudengar kelit mereka saat aku tegur karena mengganggu temannya yang lain, rengek mereka ketika aku hukum karena tertangkap mencontek temannya saat sedang ulangan harian, dan tidak ada sorak sorai mereka lagi waktu aku putuskan untuk memberi salah seorang temannya yang nakal sebuah bangku VIP (duduk di luar kelas). Tidak ada..., ketiadaan ini membuat aku jadi rindu dan semakin jauh harapanku tentang mereka. Aku rindu antusias mereka, dan aku rindu mereka yang masih belum punya kemauan sungguh-sungguh untuk belajar suatu saat nanti antusiasme itu juga akan ada dalam diri mereka.
Meskipun aku sekarang jauh dari mereka, tapi setidaknya dari sini, aku masih dapat melihat mereka. Maya atau pun nyata memang tidak menciptakan kesan yang sama, namun aku bersyukur, aku pernah jadi bagian dari mereka, dan semoga apa yang pernah aku berikan, bisa bermanfaat dan mereka manfaatkan sebaik-baiknya.

1 komentar:

  1. iya deh bu. pastinya bu. apa sih nggak buat Ibu..........

    BalasHapus