Selasa, 31 Mei 2011

BUKAN PUISI


Aku menulis sebuah puisi
puisi pertamaku tentang ibu
dalam tiap baris pada puisiku
tak lepas aku tuliskan kata "ibu"
pada puisi itu, aku curahkan kasih sayang ibu
kasih sayang yang hanya sebatas kata
kata yang hanya sebatas imajinasiku saja
setelah kupikir kata yang kutulis di puisiku tampak sudah banyak
aku pun berhenti menulis
aku tatap kertas itu,
yang tampak hanya kata "ibu"
kata yang lain seolah mengabur, 
yang terlihat, yang tersaring oleh kornea ini cuma....
ibu
Aku bacaka puisi itu, di depan cermin aku malu-malu
ketika ibu mendengarkan, ia hanya tertunduk
entah apa yang dilihatnya saat itu
apakah kakinya? atau hatinya?
Aku menerka, mencoba menafsirkan bahasa tubuhnya
tapi ketika aku berhenti membaca dan memandanginya
Ibu hanya tersenyum, tak lama ia berdiri, dan berkata
"macam iye-iye"
Sontak aku pun tertawa
tertawa terbahak-bahak
Yah, aku sadar sedari awal
kata-kata itu cuma buah pikiran
mungkin aku terlalu banyak memberi hiperbola dan repitisi
bukan karena aku ingin berbohong atas puisi yang aku tulis
tapi aku memang tidak pandai berkata-kata
bahkan di saat aku ingin merayu 
dengan memujinya lewat puisi ini pun
ibu tidak tergugah
Maka ketika ayah meminta aku membuat sebuah puisi untuknya
aku hanya bisa katakan
"puisinya sudah ada, tapi dalam hati"

...Tidak ada kata, atau pun kalimat sastra yang mampu menggambarkan kasih sayang mereka, karena mereka nyata, bukan abstrak....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar