Selasa, 17 Mei 2011

"LEBAY"


Apa yang dimaksud dengan lebay? Secara harfiah, makna kata ini tidak dapat kita temukan dalam kamus bahasa Indonesia, baik itu dalam seri Baku maupun Umum. Banyak kata yang bermunculan mengikuti perkembangan kosa kata, khususnya dalam ruang lingkup remaja. Kaum yang satu ini (remaja) begitu banyak melakukan pembaharuan, baik itu dari gaya berpakaian yang sangat beragam (emo, punk, harajuku, retro, dan lain sebagainya), pola pikir, sampai dengan “bahasa”. Yap, “lebay” adalah salah satu kata yang sering kita dengar, sudah banyak yang menggunakan kata ini untuk mengungkapkan sesuatu yang tampak atau terkesan “berlebihan”, tidak hanya remaja, melainkan juga anak-anak hingga dewasa dan orang tua. Dalam istilah kebahasaan, arti kata ini adalah nama lain dari “hiperbola” atau “melebih-lebihkan”.
Dari sebuah kata yang sederhana namun jelas menggambarkan sesuatu yang memang benar-benar “lebay”, banyak orang yang mengucapkan kata ini dengan porsi dan intonasi yang juga “lebay”, sangat “lebay”. Sungguh kuat pengaruh kata ini. Oleh karena itu, “lebay” telah mengalami peyorasi (menurut saya), kalau dulu kata ini diungkapkan oleh seseorang yang tidak begitu senang dengan seseorang yang lain yang tampak “lebay”. Namun sekarang, kata ini, bagi siapapun yang mengucapkan dan mengaplikasikannya, maka orang tersebut tidak lagi tampak seperti orang yang “tidak suka” dengan orang yang “lebay”, melainkan apabila kata ini terucap, diucapkan, mengucapkan, atau mendengar dan ditambah lagi dengan melihat ekspresi  saat pengucapan, siapa pun lah itu baik itu komunikan 1, 2, 3, dan seterusnya, semuanya menjadi tampak “lllleeeeebbbbbbbaaaaaaaaaaaayyyy”. (tuih!) hahaha *maaf
Yah, memerkaya perbendaharaan kosa kata untuk bahasa di negara ini adalah tindakan yang baik. Banyak kamus yang bermunculan, dari kamus biasa yang mendaftar istilah-istilah bahasa Indonesia secara umum, kemudian kamus istilah-istilah dalam suatu bidang ilmu tertentu, sampai dengan kamus-kamus “gaul” pun telah disusun sebagai upaya “pengembangan dan perkenalan” bahasa ke masyarakat umum. Untuk beberapa jenis kamus, jika ditilik dari fungsi dan tujuannya, kamus-kamus tersebut dapat dikategorikan sebagai kamus yang sesuai dengan pernyataan “bahasa Indonesia yang BAIK dan BENAR”. Namun untuk jenis kamus yang “khusus” (gaul) ini, dapat dimungkinkan tidak akan menimbulkan masalah, jika memang penggunaan kata-kata yang terdapat dalam kamus tersebut digunakan sebagaimana mestinya. Dengan kata lain, hanya ditujukan untuk situasi yang tidak/ kurang resmi hal itu tentunya dapat “dimaklumi”. Namun apabila, kata-kata tersebut digunakan untuk ranah yang resmi, pastinya hal ini menyalahi aturan dalam “bahasa Indonesia yang BAIK dan BENAR”.
Hal tersebut pastinya akan berdampak buruk, karena faktor kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari sangat besar pengaruhnya terhadap suatu kondisi dan situasi tertentu yang “tidak biasa” kita lakukan sehari-hari. Contohnya, yang dekat dengan lingkungan anak, yakni sekolah. Tidak jarang ditemukan pada saat proses pembelajaran berlangsung, seorang siswa dan siswa, bahkan siswa dan guru, menggunakan bahasa yang bersifat nonformal. Seperti kata-kata yang terdapat dalam kamus (yang dibahas sebelumnya). Hal ini, dikhawatrikan, akan berlanjut sampai ke perguruan tinggi bahkan ke lingkungan masyarakat.  Jadi, sesuatu yang dianggap “keren/ sedang tren” tidak selamanya dapatlah dimaklumi keberadaannya dalam suatu lingkungan tertentu. Maka dari itulah, kenapa bahasa yang diajarkan secara formal di lembaga-lembaga pendidikan ini selalu mengacu pada “bahasa Indonesia yang BAIK dan BENAR” ? Karena hal ini dimaksudkan agar kita dapat berbicara dengan, 1) BAIK atau sesuai dengan situasi, dan 2) BENAR atau sesuai dengan EyD (Ejaan yang Disempurnakan).  Perhatikan dengan saksama 2 percakapan antara Penjual Cabe dan Pembeli di bawah ini:

Percakapan 1:
Pembeli               : Bu, berapakah harga cabe ini sekilo?
Penjual Cabe       : 50ribu

Percakapan 2:
Pembeli               : Bu, cabe sekilonya berapa?
Penjual Cabe       : 50ribu

Percakapan nomor berapakah yang menggunakan bahasa yang BAIK dan BENAR?
Kalian mungkin akan menjawab, percakapan nomor 1 lah yang tepat memenuhi syarat dalam berbahasa yang baik dan benar. Namun, jawaban tersebut, tidaklah tepat. Penjelasannya, hal ini dikarenakan, secara EyD, penggunaan kata, dan susunan kalimat, memang dapat dibenarkan, namun kalimat yang digunakan oleh pembeli justru tidaklah baik atau tidak sesuai dengan situasi. Jika gaya berbahasa seperti itu digunakan pada saat kalian hendak bertanya alamat, berbelanja di pasar, berkumpul dengan teman-teman serta kerabat, atau sekedar memesan makanan di kafe atau restoran, tentunya bahasa itu tidaklah sesuai. Inginnya berbahasa yang benar, tapi justru bukannya baik, melainkan “lebay”.
Jadi, mulailah dengan memahami bahasa kita sendiri, kemudian aplikasikan, kembangkan tapi jangan sampai keluar lajur, lantas perkayalah dengan kata-kata yang memang dibutuhkan (tidak lebay). Semoga kita semua dapat melestarikan apa yang menjadi salah satu sumpah para pemuda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar