Rabu, 25 Mei 2011

S.O.S

Di kota ini, matahari bersinar selama 24 jam nonstop, tidak ada senja apalagi fajar. Orang-orang hidup tanpa tidur, hanya beristirahat di laut atau pun di bertemu dan berbincang sebuah taman. Mereka hanya bisa menonton film dan menari. Tidak ada nyanyian, hanya lantunan aransemen lagu yang begitu lamban, mendayu, kadang juga keras tapi hanya sesekali dan itupun sungguh membuat jantung hampir lepas ketika stressing muncul pada ketukan irama yang benar-benar membosankan itu. 
Bosan? Bicara soal bosan, sepertinya hanya aku yang mengenal kata itu, aku kenal, tapi aku pikir kata itu tidak juga aku alami sepenuhnya di kota ini. Karena mereka sama sekali tidak menunjukkan kebosanan dari wajah-wajahnya. Aku heran, apakah urat bosan mereka putus? Entahlah, aku tidak mengerti soal urat sarap, yang aku kenali dari mereka adalah boneka-boneka kosong tanpa jiwa, hanya ruh yang bermukim temporer, jika sudah habis masa berlaku, mereka dapat membelinya di counter jiwa milik tuan berkepala runcing seperti piramid, di persimpangan jalan di sisi barat. Lagi-lagi aku heran, kenapa aku tak pernah berpikir harus mengisi ulang ruh dalam tubuh ini. Aku diam, aku hanya duduk, kemudian aku berjalan tertunduk, terus melangkah, pandangi kaki yang semakin mempercepat langkah ini menuju ke suatu tempat. Kemana? Kaki ini melangkah sesuka hati, cepat lambat dan geraknya terlihat tak berirama. Hey, mau kalian bawa kemana aku? Aku bertanya, namun tak dijawab. Aku lupa kalau kaki tak punya mulut, mereka terus melangkah tanpa perlu memberitahukan kepadaku kemana mereka akan menuju. Aku semakin bingung, keherananku bukan lagi pada kota ini, tapi pada tubuhku sendiri, bagian tubuhku memberontak, mereka bekerja semau mereka tanpa harus menunggu perintah otak. 
Aku lelah, kaki pun mulai memperlambat geraknya. Pelan perlahan mereka semakin pelan hingga akhirnya berhenti di suatu tempat. Kios jiwa milik tuan berkepala runcing? Mulutku terkunci, tanganku seolah terikat, namun kaki terus berjalan menuju meja etalase yang memajang berbagai jenis jiwa. Ada yang merah, biru, hijau, kuning, hitam, jingga, dan ungu. Tuan berkepala runcing menyapaku dengan manis, ia mempersilahkan aku untuk memilih salah satu jiwa. Tapi aku enggan, aku pikir, aku tidak memerlukannya, jiwa ini masih utuh seperti layaknya tubuh ini, meskipun memang aku rasa ada yang berbeda dengan tubuh ini terlebih pada kaki. Aku mengucapkan terima kasih dan berlalu, kali ini aku yang memegang kendali. Kaki hanya bergerak sesuai perintah otak, tapi tidak beberapa lama aku jauh berjalan dari kios itu, aku mendengar suara tangisan. Tangisan itu datangnya bukan dari arah samping kiri dan kanan, melainkan di bawah. Aku terkejut, tidak kusangka kakiku menangis, aku tidak mengira mereka bisa mengeluarkan suara, duduk aku di tanah, meraba tiap bagian kakiku, mencari darimana mereka bisa menciptakan suara itu. Sampai aku temukan sebuah luka di kaki sebelah kanan, dari luka itu ku dengar tangisan agak terdengar keras. Dengan menutup rasa malu dan memekakan telinga dari ejekan orang-orang di sekitar ketika aku berbicara pada kakiku, aku bertanya apa penyebab luka itu. Luka itu semakin menganga, sambil meringis suaranya keluar terbata-bata, "selama ini aku selalu berjalan di depan, aku yang selalu memulai langkahmu jika hendak berpergian, tapi beberapa waktu lalu, temanku sendiri berusaha mengambil posisiku, ia menendangku saat kau tertidur, ia sengaja melakukan itu agar ia bisa melakukan apa yang biasa aku lakukan."
Aku tersentak, aku tidak menyadari kalau aku memulai langkah ini dengan kaki kiri, di luar akal pikiranku soal ini, mungkin biasa hanya saja yang tak biasa adalah aku harus mendengar keluhan kaki kananku, yah, aku lebih tak mengerti kenapa kaki bisa bicara??? Aku salah langkah? Aku tersesat, aku hilang di kota ini. Kota yang lengkap dengan segala sarana dan prasarana, dari balai pertemuan hingga gedung teater seni, tapi sayang... aku tak menemukan sebuah bangunan yang biasa aku temukan di kota ku beberapa waktu yang lalu. Kota ini tidak mengenal fajar dan senja, atau pun tengah malam. Orang-orang itu tak sekali bertegur sapa, tidak ada istilah memberi kecuali "membalas budi". Pemimpinnya pun tidak pernah terlihat, hanya bisa berbicara di balik jeruji sambil menonton TV. KOTA APA INI??? SELAMATKAN AKU........!!!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar