Kamis, 09 Juni 2011

AKHLAK KEPEMIMPINAN


Tiap orang adalah pemimpin, paling tidak pemimpin terhadap dirinya sendiri. Rasulullah Saw. bersabda, “Semua kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.
Ada banyak pemimpin, baik itu pemimpin rumah tangga, masyarakat, umat, organisasi, negara atau pun dunia. Bahkan adapula pemimpin yang dikatakan sebagai pemimpin bertaraf nasional atau internasional, serta universal. Selain itu, dikenal juga istilah pemimpin resmi/formal, dan pemimpin tidak resmi/nonformal. Pemimpin yang resmi mengurusi negara dan pemerintahan disebut umaro, dan yang memimpin kejiwaan (rohaniah) umat disebut ulama.
Bila pemimpin bersatu rakyat mudah dipersatukan. Bila rakyat (awam) bersatu tetapi pemimpin cekcok, bertengkar dan bermusuhan, akibatnya ialah bencana dan malapetaka bangsa. Menyerukan persatuan mudah tetapi sulit melaksanakannya. Pemimpin yang menyeru persatuan berbuat kebajikan, tetapi yang menganjurkan perpecahan berbuat kejahatan (kriminalitas) dan harus dituntut dan dihukum. Ucapan pemimpin, besar pengaruhnya dan sangat menentukan. Dalam masyarakat yang beragama pemimpin yang nonformal (tidak resmi) lebih ditaati daripada yang resmi (penguasa).
Pemimpin rakyat adalah abdi rakyat, dan bukan rakyat yang mengabdi kepada pemimpin. Syarat menjadi seorang pemimpin atau seseorang yang pantas dijadikan pemimpin bukanlah dikarenakan warisan, keturunan, hasil rebutan, mengangkat dirinya, atau pun pemimpin pinggiran yang diturunkan lewat parasut (politcal brokers). Pemimpin yang baik justru diberikan kepada orang yang menolaknya dan tidak punya ambisi untuk kepentingan pribadi. Pemimpin (imam) shalat memperoleh ganjaran shalatnya dan pahala seperti yang diperoleh para makmum.  Dalam keluarga atau rumah tangga  kepemimpinan dipegang oleh seorang suami. Istri juga pemimpin dalam bidangnya.
Pemimpin dipilih karena keahlian dan tanggung jawab sebab pemimpin adalah tugas dan kepercayaan. Para sahabat Rasulullah di zaman Khulafaur Rasyidin menolak jabatan/kepemimpinan karena takut salah dan dosa. Pemimpin tidak boleh putus hubungan atau kehilangan komitmen dengan umat. Pemimpin umat adalah yang biasa berkecimpung dan berakar dalam masyarakat, mengenal umat dan dikenal umat. Dia senang bila umat senang dan sedih bila umat sedih, menangis bila umat sengsara dan menderita.
Pemimpin harus memiliki kepribadian yang baik dan punya kelebihan. Kepribadian terbentuk oleh:
-          Kekhususan fitrahnya dan upaya pengalaman dan sifat-sifat yang menonjol.
-          Pengaruh lingkungan dan keluarga.
Akan tetapi dalam agama masih ada bentukan yang ketiga yaitu nurul iman (cahaya iman). Dalam nurul iman seorang dapat memperbaiki dirinya, lingkungan, masyarakat dan keadaan. Contohnya adalah Nabi Ibrahim as. Seorang diri berani dan mampu menghancurkan berhala-berhala yang menjadi pujaan penguasa dan seluruh rakyatnya.
Pemimpin adalah contoh dan panutan serta keteladanan. “Bagimu pada Rasulullah adalah contoh yang baik.” Khalifah Uman Ibnu Abdul Aziz memberi contoh kesederhanaan dan kejujuran. Ketika al-Imam Hasa Albasri diminta oleh budak-budak untuk menganjurkan masyarakat melepas dan memerdekakan budak pada khotbah jumat, beliau diam sampai beberapa bulan. Pada saat beliau khotbah banyak orang memerdekakan budak-budaknya. Beliau ditanya mengapa tidak berkhotbah sejak dulu. Beliau menjawab, “Sejak dahulu saya menabung uang sampai bisa membeli budak. Setelah saya miliki lalu saya memerdekakan budak yang saya beli. Kemudian orang-orang lain mencontoh saya dan memerdekakan budak-budak mereka.”
Seorang pemimpin harus punya tiga hal walaupun tidak semuanya sempurna: ibadah, akhlak, dan semangat perjuangan. Imam Ahmad bin Hambal ditanya, “Mana yang lebih baik pemimpin yang bertakwa tapi lemah atau pemimpin yang kuat tetapi takwanya masih kurang?” Beliau menjawab, “Takwanya adalah untuk dirinya sendr tetapi kelemahannya merugikan umat. Adapun kurang sempurnanya takwa adalah menyangkut dirinya tetapi kekuatannya menjadi keuntungan umat.” Baik buruk akhlak pemimpin besar pengaruhnya terhadap umat.
Ada empat macam kritera pemimpin: a) kharismatik (yang dikeramatkan), b) otoriter, c) Liberal, dan d) demokrat. Ada juga pemimpin kopiah beludru dan pemimpin caping. Sifat kopiah beludru tempatnya harus di atas yaitu di tempat gantungan. Bila hujan turun kopiah dilepas dan dibungkus. Dipakai sebagai penampilan. Adapun fungsi caping untuk melindungi orang dari hujan dan panas. Tempatnya? Cukup di atas lantai dan di emperan atau di dapur.
Seorang pemimpin harus yakin bahwa: a) perjuangannya hak (benar), b) selalu optimis akan tercapai sukses dan kemajuan, c) gigih, ulet, tekun, sabar, jujur (amanah) dan berani mengambil serta memikul risiko, d) punya prinsip, harga diri, dan kehormatan diri.
Banyak pemimpin baik nasional maupun internasional jatuh kerana akhlak mereka rendah. Akhlak pemimpin harus bersumber dari sifat-sifat Allah yang 99 dikurangi dua yaitu Allah dan Ar-Rahman. Itulah sumber moral dan sumber dari segala sumber moral. Rasulullah Saw. bersabda, “berakhlaklah kalian sebagaimana akhlak Allah.” Seorang pemimpin yang bertobat, berdedikasi tinggi haruslah yang sudah lulus ujian pengorbanan dalam perjuangan. “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) lalu Ibrahim menunaikannya.” Allah berfirman,  “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam (pemimpin) bagi seluruh manusia.”  Allah berfirman, JanjiKu ini tidak mengenai orang yang zalim.” (al-Baqarah: 124)
Jadi pemimpin yang zalim dimanapun dan kapanpun tidak bisa lama menjabat pemimpin. Dan ini suatu janji Allah. Seorang pemimpin yang baik adalah yang dipatuhi dan dicintai, bukan dipatuhi serta dibenci ataupun dipatuhi dan ditakuti. Seorang pemimpin yang baik ialah yang rendah diri kepada Allah dan rendah hati kepada yang dipimpinnya. Dia tidak suka menonjol, dan selalu bersedia menerima nasihat serta koreksi (kritik yang baik).
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 83)
Kampung akhirat yang dimaksud adalah kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat. Menyombongkan dir artinya tidak ingin ada pemimpin lain yang menyamai atau melebihinya. Inilah penyakit yang ada di kalangan pemimpin dan ulama. Adalah suatu kenikmatan bila seseorang menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa, “…dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqaan: 74)

_catatan_
Tapi sekarang aku hidup di kota yang pemimpinnya akan merasa senang jika rakyatnya senang, dan kesenangan itu akan dirasakannya jika rakyatnya membayar kepada mereka. Tapi sekarang aku hidup di kota yang apabila rakyatnya sedih maka pemimpinnya akan mendirikan sebuah panggung besar lengkap dengan peralatan musik disertakan juga dengan penyanyi yang menari-nari seraya mengenakan pakaian dalam, sedangkan mereka tertawa sambil melempar kue dan nasi ke tanah. Tapi sekarang aku hidup di kota yang jika rakyatnya menderita dan sengsara maka pemimpinnya akan segera memesan tiket penerbangan ke luar negeri untuk melakukan studi banding, alih-alih dengan alasan untuk mempelajari ekonomi negara lain yang sukses memakmurkan rakyatnya, tapi hasilnya? Atau pemimpinnya akan pergi ke luar negeri dengan alasan untuk berobat karena ketahuan bahwa rakyat menderita karena telah ulahnya memakan uang orang-orang yang dipimpinnya, alih-alih agar rakyat iba dan mengikhlaskan uang yang telah dirampas mereka.
Aku merindukan seorang pemimpin yang tak pernah aku lihat, aku rindukan pemimpin yang tak pernah aku dengar, dan aku merindukan seorang pemimpin yang tak pernah kutahu keberadaannya. Selama ini yang aku tahu, pemimpin yang baik adalah seorang pemimpin yang aku kenal dari aku berusia 9bulan dan untuk pertama kalinya sejak itu pemimpin tersebut aku panggil dengan sebutan "Bapak"...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar