Jumat, 10 Juni 2011

BEBEK DAN MONSTER JADI SATU


Pertama kali saya duduk di bangku sekolah dasar, hal yang mula-mula saya peroleh di sana adalah pengenalan tentang seorang anak yang memiliki ibu, dan anak itu bernama Budi. Selain Budi, juga ada seorang anak perempuan lainnya yang bernama Ani, Ani tentunya juga punya ibu, dan Ani selalu belajar dimana pun dan kapanpun yang aku tahu ia selalu sedang belajar. Setelah aku fasih mengenai ibunya Budi dan Ani, aku mulai mengenal hal lain. Kali ini, ibu guru memperkenalkan aku pada "1 + 1 = 2" atau "2 + 2 = 4". Cukup menyenangkan, saat itu aku sedang bermain dengan jendela, jembatan, dan bebek.
Berhari-hari yang aku temukan hanya Ani yang sedang bermain bersama bebek di jembatan, sementara Budi hanya berdiam diri dan melihat Ani dari jendela. Entah apa yang dilakukan Ani bersama bebek itu, apakah ia sudah mulai lupa bahwa ia adalah Ani yang selalu sedang belajar, atau...sekarang Budi yang sudah menggantikannya? Haha...terserahlah, aku bingung dengan ibu guru, apa ia sudah kehabisan tema untuk mengajarkan aku bagaimana cara mengenal sesuatu yang berbeda, variatif, tidak monoton atau setidaknya berilah sedikit bumbu pada masakan yang ia hidangkan untukku dan teman-temanku. Otak kami sama seperti perut, tapi perut tidak bisa disamakan dengan otak. Hah!
Sampailah pada suatu hari, saat aku sedang bermain-main kapur bersama teman-teman. Di papan tulisan hitam itu yang aku lihat cuma ada satu pola. Hujan. Hujan? Sepertinya begitulah yang tampak, Garis-garis vertikal pendek yang di susun rapi berpasangan. Kemudian di sebelahnya tampak temanku yg lain menambahkan dua garis yang saling menindih satu sama lain dengan posisi yang berlawanan, garis yang satu vertikal, sedang yang lainnya horizontal. Hingga terakhir, garis horizontal itu ditambah dua lagi. Setelahnya, tiba-tiba ada bebek di akhir rentetatn garis-gars horizontal dan vertikal itu. Bebek? Yah bebek, bebek suka bermain air, di saat becek mereka mulai mengecak-ngecak tanah basah berlumpur karena air hujan itu dengan kakinya yang berselaput. wek wek wek wek wwwuuoooooeeeekkkkkkk!!!!!
Beberapa hari, minggu, bulan hingga tahun berlalu, zaman dinasti Ani dan Budi perlahan mulai menjauh. Aku mulai lupa bagaimana Ani bermain dengan bebek-bebeknya dan seperti apa wajah Budi ketika bertengger di jendela sambil melihat "hujan-hujan" berjatuhan dari langit-langit papan tulis. Hm? Tik tok tik tok...tok tok tok tok daarrr darrr daarr pprrrrraaaaaaaannngg!!! Tiba-tiba aku tersentak, otakku seolah sedang digedor-gedor dan terdengar suara kaca jendela pecah. Terduduk, termenung, aku melihat langit-langit. Tidak ada apa-apa disana, aku bangun dan beranjak menuju cermin. Aku lihat wajah ini, berbeda tidak seperti biasanya, penuh bulu. Bulu-bulu hitan di kulit putih, vertikal dan horizontal tak tentu arah. Berbeda dengan garis vertikal dan horizontal yang dulu sering aku lihat di papan tulis hitam.
Tok tok tok..! Arrgh, kenapa lagi kepalaku? Tok tok tok...! "Oomm o'ommm...!", terdengar suara anak kecil. "Kali ini otakku bisa memanggilku? Dengan sebutan "Oom"? Dia pikir siapa dirinya, berani memanggilku Oom? Aku tidak pernah menikah dengan tantenya!" Yasudahlah. "Oom....,aku boleh masuk kamar o'om tidak? aku dobrak yah pintunya...!", lagi-lagi suara itu. Hahaha..., entah kenapa aku ini, terlalu banyak tidur sampai lupa bahwa mimpi sudah tamat beberapa jam yang lalu. Baiklah..., kupersilahkan masuk keponakanku, iya...anak kecilku itu adalah keponakan, duduk di bangku sekolah dasar kelas satu. Aku bertanya kepadanya, kenapa ia memanggilku. Ia pun tersenyum dan berkata, "Oom, sini deh! Bantu aku kerjakan PR dari bu guru donk...", sambil menunjukkan buku PRnya. Aku ambil buku itu dari tangannya, dan kuperiksa... Pertama kalinya setelah sekian lama aku tidak melihatnya lagi sejak duduk di bangku sekolah dasar, kali ini aku melihatnya lagi. Soal-soal tentang "1+1= ..." dan "2+2=...", tapi tidak ada Ani ataupun Budi. Untuk masalah itu, tidak aku pertanyakan lagi soal Ani dan Budi kepada keponakanku, karena menurutku bergelut dengan Ani dan Budi selama 5tahun sudah sangat cukup, lebih dari cukup untukku. 
Aku mulai membantu keponakanku, karena aku tidak pandai dalam mengajar, maka langsung saja aku beritahukan jawabannya. Seperti biasa, 1 + 1 = "pastinya 2" dan 2 + 2 =  "pastinya 4", jawabku dengan percaya diri. "Sangat gampang bukan?" kataku. Tapi yang kudengar dari bibir mungil keponakanku, "Oom salah, bukan itu jawabannya". Aku heran, diam, hanya memerhatikannya yang sedang menghapus jawabanku tadi, "Lantas apa?" kataku. "1 + 1 =  ..." itu tidak ada hasilnya, sedangkan "2 + 2 = ..." itu 3, bukan 4", jelasnya. "Kenapa seperti itu?" tanyaku keheranan. "O'om mau tahu? jadi begini, ketika 1 ditambahkan 1, 1 yang ditambahkan merasa terganggu, jadi 1 nya yang lain pun pergi melewati jembatan (=), tapi karena 1 nya tidak berpeganan dengan 1 nya yang lain saat melewati jembatan, maka 1 nya itu terjatuh, melihat kejadian itu, 1 nya yang lain pun menyusul, mereka jatuh, jadi....habis deh! Kenapa seperti itu, karena mereka itu 1. Mengerti kan Oom? Aku lanjutkan! Nah, kalau 2 ditambahkan 2 itu hasilnya 3, bukan 4! Karena..., ketika 2 dan 2 sedang melewati jembatan, 2 yang berada di belakang 2 itu tidak saling berpegangan, hingga akhirnya....", jelasnya terpotong. "Jatuh?" lanjutku. "Bukan", katanya setengah membentak. Aku terkejut, "ya sudah, lanjutkan, apa yang terjadi?" tanyaku. Ia pun melanjutkan, "2 yang satunya lagi itu, separuhnya di makan monster yang bersembunyi di bawah jembatan! Jadinya siisssaaa ttiigg ggaaaa..." jelasnya sambil menaikkan jidadnya ke atas.
(?????)
Tak kusangka, perubahan itu begitu pesat, sampai-sampai di luar jangkauan akal sehatku. Dunia...dunia...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar