Rabu, 29 Juni 2011

KERTAS SUARA


Masalah ini jika didengar dari berita yang disampaikan secara oral terkesan sangat pelik, rumit, dan sulit untuk diselesaikan. Selain itu juga sudah banyak melibatkan banyak pihak untuk proses penyelesaiannya. Kalau memang seperti itu keadaannya, berarti berita ini termasuk dalam kategori berita besar, sudah pasti memiliki tempat yang luas, tidak hanya di surat kabar daerah, atau sekedar beredar di dunia maya yang peredarannya pun hanya mencakup orang-orang tertentu saja. Jujur saya ingin melihat berita ini muncul di pemberitaan televisi nasional, tidak berlebihan hanya saja saya ingin mendengar langsung, melihat langsung, dan bagaimana alasan-alasan yang dikemukakan orang-orang dalam kutipan pernyataan di koran ini dijelaskan secara gamblang, bukan sekedar rekayasa media.
Sejak berita ini saya dengar baik itu yang terdengar atau terpaksa saya baca, sulit untuk percaya kepada siapapun yang berperan, baik itu peran utama, pendukung, atau figurannya sekalipun. Yang ini ngomong begini, yang itu ngomong begitu, entah siapa yang benar. Terlalu banyak opini dan rumor, cuma menambah kebingungan orang-orang yang menjadi “korban” dari masalah ini. Di saat sekarang, yang dibutuhkan itu mungkin bukanlah pertanyaan, tapi lebih tepatnya adalah jawaban. Bukan permintaan tapi pemberian, bukan kesimpang-siuran tapi kejelasan, dan pastinya bukan tuntutan tapi hak.
Beberapa hal dalam rumor yang beredar mengenai masalah ini:
1.       Tidak prosedural, saya sebagai salah satu di antaranya sudah melakukan seperti apa yang diminta oleh pihak penyelenggara/ panitia pelakasan ujian, jadi saya anggap semua yang mengikuti tes ini sudah sesuai dengan prosedur yang diajukan oleh pihak terkait. (selesai)
2.       Terjadi kesalahan pada LJK, lembar yang harusnya ditandatangani ternyata tidak ditandatangani oleh semua peserta ujian, hanya beberapa saja yang menandatangi. Orang yang membuat lelucon seperti ini pastinya tidak pernah mengikuti ujian dengan menggunakan LJK, dengan kata lain “Sepok darat lau dan udara”. Jika memang seperti itu adanya, sudah pasti tentu pada tahap penyeleksian atau pengoreksian hasil ujian, semua peserta yang mengikuti ujian tersebut gugur, dan tidak akan ada yang dinyatakan lulus seperti yang tertera di koran dan papan pengumuman kantor penyelenggara tes.  (habis perkara)
3.       Diduga adanya kecurangan, hampir separuh penerimaan adalah anak pejabat, ada yang masuk melalui jalur “khusus”, salah satu pejabat yang tidak terima karena orang bawaannya tidak diluluskan meskipun sudah “membayar” lantas merajuk kemudian melaporkan hal tersebut kepada yang memilik wewenang lebih tinggi, jumlah orang yang lulus pada suatu formasi tertentu melebihi kuota yang sudah ditetapkan sebelumnya pada pengumuman pembukaan, adanya ketidakharmonisan beberapa pejabat daerah dengan provinsi, dan lebih parah lagi ada yang mengatakan kurangnya “sopoy” dari daerah ke provinsi, alias bagi hasil uang “bayaran” tidak merata, sehingga prosesnya diperlambat bahkan terancam diadakan tes ulang. (semoga semua itu tidak benar)
Apapun masalah dan rumor yang beredar, harapan saya satu, siapapun yang berada di balik akar pangkal munculnya permasalahan ini semoga diberi hidayah, sesungguhnya Allah Mahamengetahui segala yang terjadi, aku tahu Ia tak pernah tidur, Ia yang menciptakan keadilan melalui tangan-tangan kebaikan, maka Ia pula yang akan menindak ketidakadilan yang terjadi dikarenakan tangan-tangan yang berbuat kejahatan. Maafkan hamba yang sulit untuk tidak berburuk sangka Ya Allah, namun hanya kepadaMu hamba memohon, berikan hamba keikhlasan dan kekuatan untuk menerima apapun yang kau anugerahkan dan kau cobakan padaku, karena hanya kepadaMu lah hamba meminta dan berharap. Selalu kembali padaMu...

WARNING!!!
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika terdapat kesamaan gambaran masalah, tokoh, dan tempat itu dikarenakan hal yang entah disengaja atau mungkin bisa juga tidak disengaja. Intinya, jangan marah atau tersinggung apalagi “nuntut’ kalau itu tidak benar adanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar