Sabtu, 23 Juli 2011

KEMBALI SEPERTI BIASA



Aku pernah memiliki ayah yang paling kubanggakan
Tapi sekarang ia sudah pergi, kembali kepadaNya
Begitu aku terlalu bangga dan mencintainya, hingga Ia cemburu dan mengambilnya dariku
Aku pernah merasakan sesuatu yang luar biasa hingga aku gelak tertawa
Tapi sekarang sungguh ini biasa saja, lagi-lagi hal itu kembali kepadaNya
Begitu aku terlalu senang, hingga aku lupakan Ia yang telah memberinya untukku
Aku pernah berada di atas puncak tanpa perlu mendaki tebing terjal
Tapi sekarang aku terperosok, kembali ke bawah, ke bumiNya
Begitu aku merasa ringan ketika terbang, 
hingga aku tidak menyadari kakiku berpijak pada bebatuan ringkih
dan jatuhnya kali ini tepat menghujam langsung ke jurang
kerikil tajam menembus kulit
debu pasir membalut mata dan menerobos mulut serta hidung
Tidak terpikir lagi apa yang pernah dan apa yang ingin aku miliki
Sebesar dan sebanyak apapun pemberian itu nantinya akan kembali
Tidak hanya yang ada di dalam lemari atau laci
Tapi juga yang melekat ditubuh, apa itu mata, hidung, tangan, kaki,
wajah, kepala, atau bahkan hati. 
Bukan cuma harta atau pun rumah
Tapi juga ilmu dan elok rupa.
Batas waktu sudah ditentukan, selagi belum jatuh tempo
dijaga itu wajib,
tapi jangan sampai jadi sebaliknya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar