Sabtu, 13 Agustus 2011

"I'am Here"


Bukan cerita fiksi, tapi bukn juga denotasi. Jika dulu aku sempat bercerita bagaimana kegilaan tentang aku yang berbicara dengan dinding serta layar laptopku sendiri, kali ini aku bercerita, seperti aku terjebak. Terjebak dalam pikiranku sendiri, tak mampu keluar dari sekat-sekat ruang otak yang begitu berbelit dan membelit tangan serta kakiku. Bahkan hati juga tak mampu bernapas menggantikan paru-paru agar akal sehat tetap pada jalurnya. Rusak.
Kalau pikiran rusak, apalagi dengan otaknya. Hoo, sudah beberapa hari aku dibuat bingung oleh sekumpulan hewan berjenis reptil, geraknya lamban, tapi makannya banyak. Entah apa yang harus dilakukan, ingin bicara, tapi kasihan dengan orang yang akan kuajak bicara, pasti ia bosan mendengar keluhanku. Beralih ke dinding kamar, tapi sedari dulu jika diajak berbincang, ia tetap diam saja. Sama halnya dengan layar dan mouse, bisanya hanya mengedipkan cahaya.
Sekarang ini, dengan mengerahkan sedikit pikiran sehat yang tersisa, aku berusaha mencari telinga. Cukup telinga, tidak punya mulut untuk menjawab juga tidak mengapa. Asalkan rela menyimak itu sudah luar biasa cukup. Tapi siapa yang mau membiarkan telinganya aku pinjam. Berpikir lagi secara bodoh, aku pinjam satu, jika memang tidak ada yang mau meminjamkan keduanya. Ah, tetap saja…, siapa yang mau? Meski Cuma satu, tetap saja cacat namanya.
Aku memang butuh telinga itu, benar-benar butuh. Jika tak ada seorang yang mau meminjamkan, aku ingin ada seseorang yang sungguh-sungguh merelakan telinganya, begitu pula tubuhnya untuk. Mendengar dan menjadi tempat sandaran. Begitu dengan bibirnya, tidak perlu menjawab, cukup mengatakan.. “Aku disini”
Maka aku tidak akan kesepian, selain kepadaNya, aku juga butuh dirinya. Jauh dari sepi, dan jauh dari gangguan reptil-reptil itu.

#dave

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar