Selasa, 27 September 2011

MEMBELA TAPI TIDAK MEMBENARKAN KESALAHAN


Seorang siswa bertanya kepada gurunya, "Bu, bagaimana  pendapat ibu tentang kekerasan yang dilakukan guru terhadap muridnya?"
Pertanyaan inilah yang pernah saya terima dari seorang siswa, demi memenuhi tugas terstrukur untuk mengumpulkan data dalam penyusunan karya ilmah miliknya, ia mengangkat masalah "Tindak Kekerasan Guru Terhadap Murid". Apa yang ia teliti, apa yang ia ingin ketahui melalui penelitian ini, bukannya sebagai sikap ingin menjatuhkan gurunya sendiri, namun entah kenapa tanggapan rekan guru yang lain justru menilai ini hanya ingin "mencari-cari kesalahan". Pada saat-saat seperti ini semestinya yang "merasa lebih dewasa" dapat berpikir secara objektif, tidak merendahkan apalagi menghakimi lantas memvonis.
Secara pribadi, memang sedikit membingungkan buat saya. Bagaimana caranya memberikan jawaban yang tidak terkesan memojokkan salah satu pihak, dan bagaimana seharusnya saya tetap menunjukkan solidaritas sesama rekan guru. Sungguh sulit menerapkan perkataan "membela namun tidak membenarkan kesalahan".
Tindak kekerasan atau yang dapat dikatakan hukuman yang terlalu berlebihan diberikan seorang guru kepada muridnya memang salah, namun ada baiknya kita melihat, mendengar, dan memahami apa penyebab awal terjadinya tindakan semacam itu. Karena pada dasarnya tidak akan ada akibat, jika tidak didahului sebab. Merunut pengalaman saya sebagai guru, guru memang tidak semestinya memberikan hukuman jika memang murid tidak melakukan kesalahan atau membantah serta tidak mau mendengarkan peringatan guru. Secara pribadi, hukuman berupa cubitan, pukulan, atau kontak fisik yang lainnya, sungguh saya hindari. Tapi pada kenyataannya, tingkat emosi seseorang benar-benar berbeda satu dengan yang lainnya. Sehingga kebijakan dalam memberikan "pelajaran" kepada siswa pun akan sangat jauh berbeda antara guru yang satu dengan guru yang lainnya.
Dari pemberitaan yang pernah ada mengenai masalah ini, sesungguhanya sudah sering dibicarakan, hanya saja, orang terlalu menanamkan kepercayaan diri yang berlebihan sehingga merasa "tidak perlu belajar dari pengalaman orang lain". Tidak hanya kepada guru, melainkan juga siswa dan orang tua. Lingkungan pertama yang dikenal anak adalah lingkungan pendidikan dalam keluarga, selanjutnya pergaulan, lantas lingkungan sekolah, apa yang anak lakukan di sekolah sudah pasti tentu adalah cerminan atau imbas dari pendidikannya di lngkungan sebelumnya. Sedangkan kesabaran dan lapang dada sepertinya memang menjadi syarat utama untuk menjadi seorang guru.
Berdoa, agar selalu diberikan kesabaran dan keikhlasan adalah jalan satu-satunya untuk mengatasi masalah dalam diri saya. Semoga tetap dapat memberikan kebijakan yang benar-benar bijak.
Buka jendela mata dan pintu pemikiran, lantas masuk ke ruang hati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar