Selasa, 20 September 2011

PANGGUNG ?


Kata mereka, "dunia ini panggung sandiwara", ada sutradara, kru, dan pelaku. Tapi pastinya ada juga yang menjadi penonton, hm... alangkah lebih baik jika saya cukup menjadi seorang penikmat saja, duduk manis menyaksikan dan menyimak pertunjukkan. Bukan karena tidak ingin berpartisipasi dalam "kepenulisan skenario", tapi memang pada dasarnya, akar masalah yang mereka sajikan dari awal pengenalan hingga klimaks, tidak begitu saya pahami jalan ceritanya, mereka sudah tidak lagi mengenal apa itu yang namanya "happy ending", entah mungkin karena karakter pertunjukkan sekarang sudah didominasi suasana "horor" jadi hampir semua ide cerita selalu diselesaikan dengan "gantung" ending. hoho...
Selain itu, dalam hal meresensi karya mereka pun sungguh sulit untuk mengidentifikasi ekstrinsik, apalagi menilai unsur-unsur intrinsiknya, para pelakunya palsu, latar dan sudut pandangnya pun berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan demi melindungi "kebenaran fiktif" yang mereka ciptakan dalam plot ceritanya. Entah amanat apa yang dapat ditemukan dalam cerita itu. Layaknya karya picisan lain, cerita mereka tidak ubahnya dengan siasat dan pikiran sesat. Dialog antarpelaku hanya diisi dengan konflik, baik itu ide maupun fisik, bahkan tidak jarang adanya kegilaan dalam bermonolog. Tidak ada istilah interaksi dengan penonton, mereka hanya mementingkan prolog dan menyelesaikannya sampai dengan epilog. Kesemuanya mereka lakukan dengan bentrok dan hal-hal yang mencolok, seperti perbandingan kaya dan miskin, cantik dan jelek, emas dan tembaga, serta daging steak dan tempe. Mereka lupa apa itu observasi pra-pertunjukan, mereka sudah tidak lagi mengenal riset pra-penulisan skenario, dan mereka sudah lupa apa itu pesan moral dalam sebuah karya "yang baik".
Sungguh panggung itu sudah benar-benar bobrok, tidak perlu membuka sepatu demi menambahkan jari tangan dengan menggunakan jari kaki untuk menghitung pada angka keberapa mereka disana akan terjerembab. Sedikit angin yang meniup tiang-tiang pondasi sudah dapat dipastikan dengan sekali gertak suara alam, panggung itu akan roboh.
Nilai dasar tidak dipenuhi di awal, nilai "0" yang akan didapati di akhir.

2 komentar:

  1. sumber cerita: (mantan) Briptu Norman Kamaru :p

    BalasHapus
  2. kena semuelah din... dr berita "aktual" mpe yg picisan... jd penonton jak. :D

    BalasHapus