Jumat, 21 Oktober 2011

DIAM


Kemarin aku sempat menghentikan waktu, waktu untuk berbicara dengan orang-orang di sekitar bahkan dengan ibu serta adikku. Aku hanya diam, berbaring di kamar, menutup semua pintu dan jendela, memandangi langit-langit dan menjelajahi setiap seluk dinding kamar serta memekakan telinga dengan berbagai musik. Suasana di luar kamar seolah mengabur. Meringkuk dalam kekesalan dan amarah, mencari jalan lain menuju ketenangan, berusaha memukul peristiwa luka yang begitu menanam perih di hati. Dengan diam aku merasa damai.
Beri aku sedikit waktu untuk diam, maka aku akan diam dan melupakan semua. Anggap itu adalah bukti pesakitan atas diriku yang tak bersalah. Aku hanya ingin menghapus sesuatu yang tak semestinya terus aku simpan dalam ruang hati ini. Sesekali, jangan biarkan diamku terusik oleh sesuatu apapun, meski itu adalah kata maaf. Mungkin pernah sekali dulu ada ruh seorang pujangga yang tersasar berdiam dalam keremangan jiwa ini, sehingga luka dapat kuukir dalam sebuah pusara. Tapi sekarang, ruh itu tampaknya enggan bersemayam lagi pada diri ini. Entah kenapa.
Mungkin bahasaku yang terlalu indah, hingga ia merasa sia-sia ada dalam diriku. Aku tawarkan ia untuk melihat ke jendela mata hati untuk memahami setia frasa dan klausa yang terurai dalam rangkaian kalimat. Tapi ia justru mendorongku ke tepian bibir jurangnya hingga aku terperosok dan jatuh, hanyut di arus kegalauan dan terdampar di dasar kehidupan.
Begitulah jika aku diam, ada begitu banyak langkah, arus, dan tempat yang membawa dan menghanyutkan aku menuju tempat dengan jutaan cahaya yang di mata manusia kelihatan tak berwarna. Tampak, tapi tak nyata, cahaya yang dengan sekali kilas dapat membawaku hilang tersesat menuju dunia paradoks warna.
Dalam diamku, biarkan aku memahat angan ini hingga memiliki bentuk. Dalam diam, aku mengert segalanya memupuskan ketidaktahuanku akan indah sekaligus megah kehadiranNya. KehadiranNya yang tanpa batas.

1 komentar: