Kamis, 26 April 2012

FRASE DAN MAKNA KATA



FRASE
Frase adalah gabungan kata. Frase dibagi menjadi dua kriteria, yaitu:
1. Frase Endosentris
Frase endosentris adalah gabungan kata yang apabila dipisah salah satu katanya, kata yang lain tetap memiliki arti. Frase ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis,
a. Frase Atributif disebut juga frase berpelengkap. Contoh: Siswa SMAN 7 (Siswa sebagai inti frase, sedangkan SMAN 7 sebagai pelengkap frase), mengendarai motor (mengendarai sebagai inti, sedangkan motor sebagai pelengkap).
b. Frase Koordinatif, frase yang memiliki kesetaraan atau perlawanan antarkata yang tergabung di dalamnya. Contoh: siang malam (frase koordinatif perlawanan), menangis dan meratapi (frase koordinatif persamaan/setara).
c. Frase Apositif, frase yang berfungsi menjelaskan posisi subjek, atau dapat juga dikatakan sebagai hasil perluasan subjek pada suatu kalimat. Contoh: SBY, Presiden RI, memberikan sambutan dalam pembukaan sekolah terbuka untuk anak-anak di daerah pedalaman Kalimantan. (Presiden RI merupakan frase apositif, karena berfungsi menjelaskan "siapa SBY" dalam kalimat tersebut.
2. Frase Eksosentris adalah gabungan kata yang apabila dipisah salah satu katanya, kata yang lain tidak memiliki arti. Contoh: di rumah (kata 'di' jika dipisah dengan 'rumah', tidak akan memiliki suatu arti tertentu), yang terhormat (kata 'yang' jika dipisah dengan 'terhormat', tidak akan memiliki arti tententu pula).

Selain pembagian jenis frase di atas, adapula pembagian jenis frase lain yang didasarkan atas unsur D-M dan M-D (D = Diterangakn, M = Menerangkan).
1. Frase D-M, contoh: siswa SMAN 7 (siswa = D, SMAN 7 = M)
2. Frase M-D, contoh: sangat tinggi (sangat = M, tinggi = D)

Frase dapat pula dibedakan berdasarkan jenis kelas kata, yaitu:
1. Frase verba, frase yang intinya merupakan kata kerja. Contoh: mengendarai motor, memukul meja.
2. Frase nomina, frase yang intinya merupakan kata benda. Contoh: siswa SMAN 7, guru bahasa Indonesia.
3. Frase adjektiva, frase yang intinya merupakan kata sifat. Contoh: sangat tinggi, panjang pendek.
4. Frase adverbial, frase yang intinya merupakan kata keterangan. Contoh: siang malam, yang terhormat.
5. Frase preposisional, frase yang intinya merupakan kata depan. Contoh: di rumah, ke sekolah.
6. Frase numerial, frase yang menunjukkan adanya kata bilangan. Contoh: beberapa siswa, ketiga kursi itu.

MAKNA KATA
1. Pergeseran/ Perubahan Makna Kata
Kata-kata tertentu dapat mengalami perubahan arti, terdapat enam jenis perubahan arti.
a. Meluas/ Generalisasi, makna kata sekarang lebih luas daripada makna asalnya. Contoh: petani, peternak, berlayar, ibu, bapak.
b. Menyempit/ Spesialisasi, makna kata sekarang lebih sempit daripada makna kata asalnya. Contoh: pendeta, sarjana, madrasah, pembantu.
c. Amelioratif, makna kata sekarang lebih baik daripada makna kata asalnya. Contoh: wanita, pramuniaga, rombongan, tunawisma.
d. Peyoratif, makna kata sekarang lebih buruk daripada makna kata asalnya. Contoh: kawin, gerombolan, gelandangan, oknum, perempuan.
e. Sinestesia, makna kata yang diakibatkan adanya penyimpangan indera. Contoh: suaranya enak didengar, wajahnya manis.
f. Asosiasi, makna kata yang diakibatkan adanya persamaan sifat atau ciri. Contoh: tukang catut (preman), Orang itu baru saja menerima amplop (amplop = uang sogok).

2. Hubungan Makna Kata
a. Sinonim, persamaan kata. Contoh: siuman = sadar, senang = gembira.
b. Antonim, perlawanan kata. Contoh: senang x sedih, tinggi x rendah.
Selain itu, antonim juga dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu: 1) antonim kembar (putra-putri), 2) antonim gradual (panjang pendek), 3) antonim relasional (suami istri), 4) antonim majemuk (emas perak), 5) antonim hierarkis (jenderal kopral).
c. Polisemi, suatu kata yang memiliki makna ganda. Namun demikian di antara makna tersebut masih terdapat hubungan makna. Contoh: anak saya sakit (keturunan), ia anak buahku (bawahan), anak tangga itu sudah rapuh (bagian tangga yang diinjak).
d. Hiponim, suatu kata yang maknanya telah tercakup oleh kata yang lain. Hubungan makna kata satu dengan yang lain akan menghasilkan kata superordinat dan subordinat. Contoh: Ia membeli berbagai macam bunga, ada mawar, melati, anggrek, dan raflesia. (mawar, melati, anggrek raflesia = hiponim > subordinat).
e. Hipernim, suatu kata yang makanya mencakup makna kata yang lain. Contoh: Ia membeli berbagai macam bungan, ada mawar, melati, anggrek, dan raflesia. (bunga = hipernim > superordinat)
f. Homonim, kata-kata yang memiliki kesamaan ejaan dan bunyi tapi berbeda arti. Contoh: bisa (dapat), bisa (racun ular).
g. Homofon, kata-kata yang memiliki bunyi yang sama tapi berbeda ejaan dan arti. Contoh: bank (tempat menabung), Bang (kata sapaan untuk saudara lelaki yang lebih tua).
h. Homograf, kata-kata yang memiliki ejaan yang sama tapi berbeda bunyi dan arti. Contoh: apel (nama buah), apel (upacara bendera).

Catatan: Homonim sering dikacaukan dengan pemahaman terhadap polisemi. Keduanya memiliki perbedaan seperti berikut,
Homonim >> 1) berupa dua kata tau lebih, 2) tidak ada hubungan arti, 3) dipergunakan secara denotatif.
Polisemi >> 1) berasal dari satu kata, 2) ada hubungan arti, 3) dipergunakan secara konotatif kecuali kata induknya.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar