Jumat, 27 April 2012

UANG MINYAK


Mungkin ini cerita yang sudah lazim dan biasa ditemukan serta dialami oleh sebagian besar orang di negara ini. Hal ini tidak lain berkenaan dengan pelayanan masyarakat. Yah, pelayanan masyarakat, pelayanan para pamong daerah kepada masyarakatnya. Kejadian ini bermula dari rencana saya untuk mengurus kepindahan tempat tinggal ke daerah lain dari daerah tempat tinggal saya semula. Awalnya berjalan dengan mudah ketika meminta surat pengantar ke ketua RT setempat, setelah saya dapatkan suratnya dalam hitungan menit. Dengan senang dan puas karena begitu mudah urusannya, saya segera membawa surat pengantar tersebut ke kelurahan.
Sesampainya di kelurahan, saya langsung menyerahkan surat pengantar tadi kepada petugas di sana, disertakan dengan beberapa syarat lain berupa KK dan KTP asli. Kemudian petugas itu pun mengeluarkan secarik blanko, lalu "mengetik" blanko tersebut dengan mengisi beberapa data sesuai KK dan KTP asli tadi. Tidak butuh waktu yang lama pula, blanko atau berkas untuk mengurus kepindahan saya pun selesai "diketik" oleh petugas itu, ia serahkan dan....meminta uang "administrasi" sejumlah Rp. 15.000, tidak banyak memang meskipun cukup untuk membeli bensin 3liter atau keperluan belanja bahan makanan sehari. Hanya saja, yang tidak saya pahami, bukankah sekarang pemerintah menggaung-gaungkan gerakan ANTI-PUNGLI. Entahlah, apakah itu benar biaya administrasi yang harus dibayar, atau memang benar-benar pungli?
Ketika saya hendak pergi, petugas itu kembali memanggil saya, dan berkata, "Mau ngurusnya sendiri kan ke camat?" heran bercampur bingung, saya kira ini sudah selesai pun jika belum selesai, akan diuruskan oleh pihak kelurahan, lantas untuk apa biaya administrasi tadi? Semahal itu kah harga kertas yang hanya diketik dengan mesin ketik lama? Baiklah..., dengan terpaksa saya meng-iya-kan pertanyaan petugas itu. 
Keesokan harinya, saya pergi ke kantor kecamatan yang jaraknya lumayan jauh dari rumah saya. Sesampainya di sana, ternyata petugasnya sedang tidak berada di tempat, saya melihat jam tangan, "Masih pukul 10.00, sudah pulang atau hanya keluar sebentar kemudian kembali?" pikir saya. Saya bertanya kepada orang yang duduk di ruangan administrasi, entah petugas atau bukan, tidak berpakaian dinas tapi cukup rapi kalau hanya sekedar "main-main" di kantor pemerintahan seperti itu, "Kira-kira petugasnya kapan kembali, Pak? Saya mau mengurus kepindahan tempat tinggal." 
"Oo.., letakkan saja berkasnya di meja itu, nanti saya sampaikan," jawab orang itu sambil menunjukkan ke arah meja yang sudah dipenuhi oleh kertas-kertas. Saya pun meletakkan berkas yang saya bawa di meja tersebut. Kemudian, saya bertanya lagi kepada orang itu, "Untuk mengurus surat pindah ini butuh waktu berapa hari ya, Pak?"
"Tinggalkan saja dulu berkasnya, besok datang lagi ke sini," kata orang itu sambil sibuk mengutak-atik tombol Hp-nya. "Oh, baiklah," ucap saya singkat.
Hari berikutnya, saya pergi lagi ke kantor kecamatan. Begitu kecewanya, ketika melihat berkas yang kemarin saya serahkan masih tersimpan rapi di atas meja, tanpa tersentuh, bahkan ketika saya konfirmasi masalah berkas yang saya ajukan kemarin untuk mengurus kepindahan, ternyata tidak diketahui sama sekali oleh petugas yang kebetulan pada hari itu ada di tempat. Tidak hanya itu, hal yang paling menyebalkan, orang yang kemarin itu masih ada di ruangan dengan wajah tidak berdosa seolah tidak mengenal saya.
Tanpa lama menunggu, saya langsung meminta petugas untuk memproses berkas saya tersebut. Tapi apa jawaban si petugas, "Suratnya bisa saja langsung jadi hari ini, tapi Pak Camatnya sedang ikut pelatihan."
"OOOooh tidak..., betapa jauh dan panasnya udara di perjalanan ini tapi akhirnya sia-sia juga," gerutu saya dalam hati. Dengan susah payah mengatur mimik wajah agar tidak terlihat kesal di depan orang-orang menyebalkan ini, saya pun berinisiatif meminta nomor yang dapat dihubungi untuk menanyakan kabar jika berkas saya selesai diproses. Sayangnya petugas itu tidak mau memberi, malah meminta balik nomor handphone saya, dan berjanji akan menghubungi jika prosesnya sudah selesai.
Sehari...dua hari...tiga hari...satu minggu pun berlalu, tidak ada juga yang menghubungi untuk mengabari nasib berkas yang saya tinggalkan di kantor kecamatan. Saya pun segera pergi menuju ke sana, dan apa yang terjadi? Sesampainya di sana, yang saya dapatkan adalah berkas itu sama sekali belum bergerak dari tempat asalnya, bahkan kertas-kertas di meja itu pun semakin bertambah. Kesal, jengkel, marah, dan keinginan untuk menempeleng kepada si petugas semakin menjadi-jadi dalam benak saya. Ditambah lagi dengan sikap petugas itu yang seolah menganggap sepele dan tidak memedulikan kepentingan orang lain yang benar-benar membutuhkan "pelayanan". Sebelum saya bertanya soal berkas, saya bertanya mengenai si Pak Camat yang katanya sedang mengikuti pelatihan beberapa waktu lalu. "Pak Camat masih ikut pelatihan ya?" tanya saya. "Udah selesai pelatihannya," jawab petugasnya. "Berkas saya belum selesai ya? Ini udah lewat seminggu loh, Pak?" dengan nada tinggi terdengar seperti marah, saya menanyakan soal berkas itu. Tapi dengan wajah tak berdosanya petugas itu berkata, "Baru mau diurus hari ini, nanti saya SMS kalau sudah selesai." Tanpa banyak bicara, dan menjawab seadanya, saya pulang sambil menahan kesal.
Sorenya, saya pun mendapatkan sebuah SMS yang mengabarkan bahwa berkas saya sudah selesai dan dapat diambil. Keesokan harinya pun saya kembali ke kantor kecamatan itu untuk mengambil berkasnya. Saya masuk ke ruangan administrasi dan segera menemui petugas, petugas itu pun langsung menyerahkan berkas, dan sekaligus meminta uang administrasi sebesar Rp. 50.000,-. Lebih besar jumlahnya dibanding dengan yang diminta petugas kelurahan. Begitu tinggikah kualitas kertas dan tinta pulpen Pak Camat yang digunakan untuk menandatangi berkas ini? Jujur dengan sangat tidak ikhlas saya berikan uang itu, seraya berpikir bagaimana dengan orang yang tidak punya uang? Saya pun meminta kwitansi pembayarannya, tapi si petugas berkata dengan santainya, "Nda ada kwitansi." 
Mendengar perkataannya, saya pun langsung menempeleng kepada petugas itu, dengan perasaan puas namun tidak lega...karena hal itu saya lakukan hanya dalam imajinasi saja, tidak pada kenyataan. Pada dasarnya saya masih tahu sopan santun, walau bagaimanapun petugas itu jauh lebih tua dan "sepertinya" "mungkin" "perlu dihormati".
Hhhhaaaaah...., inginnya menghelas nafas karena terpikir bahwa urusan sudah selesai, tapi nyatanya INI BELUM BERAKHIR KAWAN....! Saya harus pergi ke Capil untuk melanjutkan pemprosesan berkas ini. Pertama kali yang terbesit dalam pikiran saya, berapa uang lagi yang harus dikeluarkan? Berapa lama lagi harus menunggunya hingga selesai? 
"YAAAAAAA ALLLLAAAAHHHH.......DUNIA INI GA' FEAR!!!!!" *lebay

#Ini semua tentang seruan "say no to PUNGLI" yang memang hanya sekedar seruan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar